alexametrics

Bangga, Desain Busana Tema Wayang Kulit Hadir di Singapura

16 Maret 2019, 10:00:51 WIB

JawaPos.com – Desainer muda Indonesia membanggakan saat tampil di Singapura. Namanya Agata Maureen. Usianya masih 21 tahun dan berstatus sebagai mahasiswi. Agata unjuk kemampuan dalam acara perayaan 70 tahun terbentuknya Commonwealth, the Royal Commonwealth Society berkolaborasi dengan mahasiswa Management Development Institute of Singapore (MDIS) School of Fashion and Design untuk menyebarkan pesan kesinambungan melalui event fashion show Avant-Garde.

Agata mendapat inspirasi desainnya dari budaya wayang kulit dan Antelope Canyon (Tebing Kijang). Hal itu terlihat dari hasil koleksinya dengan lekuk siluet yang unik.

“Untuk menonjolkan nuansa silhouette wayang kulit pada desainnya, saya menggunakan teknik lipat (pleating technique) untuk detailnya agar dapat menciptakan garis curcy Antelope Canyon. Silhouette dan detail ini adalah untuk memberikan kesan feminin,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (16/3).

Bangga, Desain Busana Tema Wayang Kulit Hadir di Singapura
Mahasiswi asal Indonesia Agata Maureen menampilkan desain wayang kulit (MDIS)

Fashion show ini menampilkan hasil karya desain mahasiwa yang menggunakan bahan plastik daur ulang sebagai suatu busana yang fashionable dan layak pakai. Diselenggarakan pada 11 Maret 2019, event yang digelar oleh Komisaris Tinggi Inggris untuk Singapura (British High Commisioner to Singapore), Yang Mulia Scott Wightman, bertujuan untuk menghubungkan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk memulai suatu gerakan dalam rangka menciptakan kesinambungan (sustainability).

“Tema kami untuk tahun 2019 ini adalah A Connected Commonwealth, yang mendorong kolaborasi untuk melindungi lingkungan hidup dan menciptakan kesinambungan. Kerja sama ini menunjukkan bagaimana masing-masing dari kami bisa mengambil bagian untuk menciptakan kesinambungan dan mendorong generasi muda untuk berpikir kreatif mengenai isu ini,” kata Scott.

Para mahasiswa yang berpartisipasi dalam event fashion show ini juga diminta untuk memperhatikan nuansa kebudayaan dari desain yang hendak dibuat. Mereka diminta untuk mendesain fashion yang santun dan relevan dengan perkembangan zaman saat ini, dan juga memikirkan aspek pakai serta kesinambungan dari hasil desain tersebut.

Sebanyak 12 mahasiswa merespons tantangan ini, banyak karya mereka yang dihasilkan berdasarkan inspirasi dari nuansa kebudayaan dan lingkungan hidup. Selain Agata, ada mahasiswa lainnya dari berbagai negara.

Charis Tan, 24, mahasiswa asal Singapura misalnya terinspirasi oleh Arabesque (seni ornamen Islami) dan arsitektur masjid. Tampil juga Khvan Mariya, 21, mahasiswa campuran Kazakhstan dan Korea Selatan, mengaku terinspirasi oleh seni arsitek dan kebudayaan lain, yaitu Changdeokgung yang merupakan salah satu situs warisan UNESCO Korea. Mahasiswi asal Myanmar, Nan Lao Tip Oo yang sangat tertarik dengan artis pioner Singapura, yaitu Chen Wen Hsi. Sementara mahasiswa asal Tiongkok, Charles Lyu, 27, mendapat inspirasinya dari tempat yang tidak terduga, yaitu museum mobil di Jepang.

Karya-karya desain yang yang dihasilkan oleh mahasiwa ini sangat memukau para juri yang terdiri perwakilan negara-negara persemakmuran yang berbeda. Terlepas dari desain yang menarik dan sedang trend saat ini, para juri juga sangat terkesan pada bagaimana setiap desain yang dihasilkan dapat memberikan statement kuat terhadap fashion yang berkesinambungan dengan memanfaatkan bahan daur ulang.

Editor : Deti Mega Purnamasari

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Close Ads
Bangga, Desain Busana Tema Wayang Kulit Hadir di Singapura