alexametrics

7 Hal yang Bisa Membuat Milenial Menyesal di Hari Tua

15 Oktober 2019, 14:10:28 WIB

JawaPos.com – Satu moto milenial yang paling nge-trend saat ini yaitu ‘YOLO’ atau ‘You Only Live Once’. Ini alasan kenapa milenial selalu mengedepankan kesenangan saat ini dan cenderung mengabaikan masa depannya.

Karena bagi milenial, kesusahan hari ini biarlah terjadi, sementara hari esok memiliki kesusahannya sendiri. Jika dipikir-pikir lagi, moto ini sangat masuk akal. Lagipula tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada hari esok. Jadi nikmati saja apa yang ada saat ini.

Akan tetapi, terlalu mendepankan moto hidup YOLO tak jarang membuat kaum milenial menyesal di kemudian hari. Sebab, mereka cenderung tak menyiapkan hari tua secara matang. Berikut 7 hal yang bisa membuat kaum milenial menyesal saat tua seperti dikutip dari Cermati.com, Selasa (15/10).

1. Jumlah Aset yang Sangat Minim

Kaum milenial lebih suka hidup foya-foya daripada mengumpulkan asetnya, seperti rumah. Kalaupun ingin membeli aset, ujung-ujungnya pasti membeli mobil. Padahal mobil tidak bisa dikatakan sebagai aset yang menjanjikan karena nilai jualnya cenderung turun seiring dengan berjalannya waktu. Daripada mengumpulkan aset, milenial lebih suka menghabiskan uangnya untuk traveling, kongko, party, atau kegiatan yang mengarah ke hedonisme.

Jika tidak segera mengubah diri, wajar saja bila milenial tidak punya aset apa-apa saat tua nanti. Akibatnya, hidup di hari tua menjadi melarat dan tidak seenak apa yang diimpikan.

Ilustrasi investasi saat masih muda untuk persiapan masa tua. (Money)

2. Kewajiban Investasi di Usia Muda Terabaikan

Banyak milenial yang menolak untuk berinvestasi di usianya yang masih muda. Kenapa demikian? Sebab pola pikir milenial yang belum terarah ke masa depan. Milenial beranggapan kalau kesenangan hari ini akan bertahan di kemudian hari, padahal kenyataannya tidak demikian. Bahagia di usia tua bisa dirasakan bila kaum milenial mau menginvestasikannya mulai dari sekarang.

Semakin dini investasi dimulai, maka semakin besar peluang untuk memaksimalkan kebahagiaan di masa mendatang. Jadi, jangan sia-siakan masa muda dengan berfoya-foya.

3. Kesulitan Mengubah Gaya Hidup

Gaya hidup yang tak terkontrol cenderung mengantarkan kaum milenial ke arah pemborosan. Apalagi cakupan gaya hidup itu sendiri juga sangat luas. Biayanya tidak hanya untuk belanja, tetapi juga untuk travelling, perawatan, dan masih banyak lagi.

Sah-sah saja bila mau travelling atau perawatan ke salon, tetapi coba pertimbangkan apakah itu menjadi kebutuhan utama atau tidak. Jika ternyata tidak, lebih baik tunda dulu pemenuhannya dan fokus pada hal-hal yang terpenting terlebih dahulu.

4. Rencana Keuangan Terbaikan

Milenial perlu tahu kalau finansial itu teramat penting untuk dipikirkan. Sebab kondisi finansial ini sifatnya jangka panjang dan mempengaruhi hidup di masa tua nanti. Jika milenial mengabaikan rencana keuangan di masa muda, percayalah kalau keuangan di masa tuanya akan hancur berantakan. Memang, merencanakan keuangan tidak semudah membalikkan telapak tangan.

5. Terbiasa Pilih Menyewa Ketimbang Membeli

Bagi kaum milenial, menyewa itu jauh lebih bagus daripada membeli. Pandangan seperti ini tidak selamanya benar. Kadang kala, membeli itu tetap penting terutama untuk barang-barang yang memiliki umur ekonomis lama dan bisa dijadikan sebagai investasi jangka panjang.

Lantas, haruskan selalu membeli? Tentu saja tidak. Milenial tetap diperbolehkan menyewa barang, tetapi untuk barang yang intensitas pemakaiannya tidak terlalu sering. Misalnya kamera, sound system, dan peralatan untuk seminar.

Tidak dapat dipungkiri, membeli suatu barang membutuhkan biaya atau modal yang lumayan besar. Tetapi pengeluarannya hanya untuk satu kali saja, tidak berkali-kali sehingga jatuhnya menjadi lebih untung.

6. Jadi Ketergantungan pada Orang Lain

Terima atau tidak, kebanyakan kaum milenial sering menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Hal ini bisa dilihat dari keseharian milenial yang tidak bisa bepergian sendiri. Ke mana pun tujuannya, maunya harus ditemani dengan alasan biar lebih aman.

Bersama-sama itu bagus, tetapi ada saatnya dimana milenial juga harus sendirian. Misalnya saja dalam mencapai sukses, maka usaha untuk mencapai sukses itu harus bersumber dari diri sendiri, bukan orang lain. Jika milenial terus-menerus menggantungkan hidupnya kepada orang lain, percayalah kalau sifat ini akan terbawa saat tua nanti. Milenial menjadi lebih sulit mandiri karena hidupnya sudah biasa ditopang oleh orang di sekelilingnya.

7. Terbiasa Merasa Terlalu Nyaman

Jika dihadapkan pada situasi yang enak dan aman, siapapun pasti merasa nyaman. Betul, tidak? Tetapi jangan terlalu nyaman juga, apalagi nyaman pada apa yang dimiliki saat ini. Ingatlah kalau perjalanan hidup masih panjang, jadi jangan cepat merasa nyaman atau puas dengan pencapaian saat ini. Gunakan waktu untuk mengejar banyak hal yang lebih baik di luar sana.

Tidak perlu takut gagal karena usaha akan selalu membuahkan hasil. Walaupun pada kenyataannya harus melalui proses yang lumayan panjang. Jika dari muda saja sudah terbiasa merasa nyaman, maka ini akan membuat milenial malas untuk mengembangkan potensi dirinya di masa mendatang. Padahal masih banyak bakat- bakat tersembunyi yang belum sempat dikeluarkan.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah



Close Ads