alexametrics

Dukung Istri, Ayah ASI Juga Bisa Disebut Hot Daddy

6 Oktober 2019, 14:15:34 WIB

JawaPos.com – Ayah ideal atau disebut dengan istilah ‘Hot Daddy’ bisa diwujudkan dengan sikap atau aksi nyata. Ayah ideal pasti memprioritaskan apapun untuk keluarganya, anak dan istrinya. Dimulai dari menikah, suami siaga saat menjaga kehamilan istrinya, hingga ketika menjadi Ayah ASI.

Psikolog Klinis Liza Marielly Djapri menilai, ‘Hot Daddy’ bisa dimulai dari perjuangan ayah mau ikut membantu istri mengurus anaknya, menggendong bayinya, menggantikan popok, dan mendukung istri dalam pemberian ASI. Maka peran Ayah ASI bisa juga disebut sebagai ‘Hot Daddy’.

CoFounder Ayah ASI, Rahmat Hidayat menjelaskan, kampanye hashtag jargon ‘Hot Daddy ‘di media sosial tidak akan efektif jika dilakukan tanpa aksi. Meski begitu, menurutnya, para ayah zaman now semakin sadar untuk terlibat dalam pengasuhan anak.

” Gini deh, untuk jadi suami dan ayah, jadikan saja keluarga sebagai prioritas dalam hidup kita dengan begitu apapun yang keluarga butuhkan, kita ada,” tegas Rahmat kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Rahmat mengajak para ayah untuk terlibat mau terjun langsung membantu istri membesarkan buah hati bersama-sama. Seperti jargon para Ayah ASI yaitu ‘Bikinnya Berdua Urusnya Juga Berdua’.

Hashtag sih enggak penting yah, yang jauh lebih penting sih makin ke sini banyak para suami yang semakin sadar pentingnya ikut terlibat di dalam pengasuhan anak. Kan biasanya urusan rumah dan anak-anak jatahnya ibu, nah sekarang banyak para ayah yang udah enggak malu untuk terlihat ngurusin anak di muka umum. Ini menurut kami (para ayah) penting sih, karena sejatinya pengasuhan adalah kerja bersama,” kata Rahmat.

Peran Ayah ASI, kata Rahmat, mendukung istri agar sukses memberikan ASI pada anak. Rahmat menyebut aksu itu hanya pintu masuk keterlibatan para suami pada pengasuhan.

“Reza Gunawan di buku Catatan Ayah ASI bilang bahwa siklus dari pacaran, nikah, hamil, melahirkan, menyusui dan tumbuh kembang anak harusnya menjadi rantai yang tidak terputus. Keterlibatan ayah enggak boleh berhenti pada salah satu tahapan tersebut, karena akan mempengaruhi tahapan berikutnya,” tutur Rahmat.

Menurutnya, untuk bisa terlibat yang utama itu harus menjalin komunikasi yang efektif. Suami-istri harus ngobrol soal pembagian tugas di rumah.

“Dari situ disepakati apa yang bisa dikerjakan suami, dan apa yang bisa dikerjakan istri. Selain menyusui, sebenarnya kan enggak ada satupun kerjaan di rumah yang ga bisa dilakukan oleh suami. Nah, jadi bagi tugas deh,” jelas Rahmat.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads