alexametrics

Tak Cuma Menang Modal, Desainer Harus Miliki Bakat!

3 November 2019, 16:45:50 WIB

JawaPos.com – Gemerlap dunia mode kadang menimbulkan tanda tanya, berapa banyak biaya sih yang harus dikeluarkan untuk menjadi seorang desainer atau perancang? Baik itu desainer busana maupun aksesori. Sebab, terkadang jika dilihat, material busana yang digunakan saja sangatlah mahal.

Dikatakan, seorang desainer harus mengikuti sekolah mode. Agar tak hanya pandai menciptakan karya tapi juga tahu dan paham seluk-beluk bisnis di dunia mode. Lantas, apakah menjadi seorang desainer wajib masuk sekolah mode?

Setiap orang memiliki bakat. Ketika bakat seseorang itu diasah dengan ilmu lewat sekolah mode, maka bisa dikatakan ia melangkah lebih maju untuk mengembangkan kemampuannya. Tapi, sekolah mode bukanlah satu-satunya cara untuk mengembangkan diri.

Rinaldy Yunardi dengan salah satu karyanya. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Seperti diungkapkan desainer aksesori, Rinaldy Yunardi. Disamping bakat, dukungan dari jaringan pertemanan dan kreativitas, Rinaldy bisa berkembang pesat.

“Kalau buat saya contohnya, jadi contoh utama. Banyak teman-teman dari hatinya sudah ada bakat, dari jiwanya sudah ada bakat. Saya enggak sekolah fashion kok. Memang bahannya mahal. Eksperimen itu mahal. Sekolah pun pasti mahal,” tegas Rinaldy kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Bakat Rinaldy secara tak disengaja ditemukannya saat dia bekerja di perusahaan elektronik milik sang kakak. Di saat itulah sebuah mukzizat datang ke dalam hidupnya. Berawal tanpa disengaja, Rinaldy mengutak atik apa saja yang ada. Dari mulai akrilik, kabel, wire card, dan lainnya membuat tiara saat dia bekerja dengan almarhum Kim Thong, desainer pada masa itu.

Maka setelah itu, di tengah keterbatasan pengetahuannya tentang tiara, dengan uang gaji bulanan yang diperolehnya, Rinaldy membeli berbagai bahan. Dari mulai akrilik, payet, lem, cat, Kristal, dan kawat. Dengan banyaknya teman di kalangan salon, bridal, dan desainer, maka permintaan saat itu makin banyak.

Baginya, seseorang ingin ikut ke skeolah mode merupakan pilihan. Harga yang ditawarkan sekolah mode pun berbeda-beda. Tapi, ungkap Rinaldy, sekolah mode apa pun akan percuma jika hatinya tidak mencintai atau hanya sekadar ikut-ikutan tren.

“Jujurlah pada hatinya. Duit memang membuat orang jadi orang kaya tapi kalau enggak jujur dalam fashion ngapain kan mahal-mahal,” tukas Rinaldy.

Ditemui JawaPos.com secara terpisah, Perancang busana Tities Sapoetra, mengungkapkan,  sudah merasakan bakat alami di dunia mode pada dirinya sejak lama. Bahkan bakat itu sudah terpendam sebelum publik mengenalnya sebagai bintang komedi Extravaganza.

Tities Sapoetra di ajang JFW saat menjelaskan soal menjadi desainer. (Rieska Virdhani/JawaPos.com)

Maka dia memutuskan untuk mengasah bakatnya dengan ilmu. Dia memilih belajar di sekolah Susan Budiharjo dan Instituto di Moda Burgo.

“Sempat sekolah 2,5 tahun untuk mengasah bakat fashion tahun 2011. Setelah S1 langsung ambil ilmu itu. Enggak banyak orang tahu. Jadi memang dengan sekolah, banyak ilmu yang didapat,” jelas Tities.

Tapi, sekolah sebenarnya justru dimulai saat terjun langsung ke lapangan. Maka dari itu, Tities merasa semua orang bisa menjadi desainer tak harus melulu memikirkan soal uang, tetapi semuanya bisa diperoleh dengan banyak jalan dan kemauan. Dan semua kesuksesan tak bisa diraih dengan instan.

“Bisa juga enggak harus mahal banget. Itu semua bakat dan kemauan keras. Saya juga bukan orang paling pinter di kelas dulu. Bukan juara 10 besar terbaik. Dan banyak yang jago jahit gambar dan lainnya. Tapi saya orang yang ulet. Saya tahu apa yang saya mau, di situ saya kejar. Dan belajar bisa dari mana saja dan dari siapa saja,” kata Tities.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads