alexametrics

Gemerlap Dunia Mode: Profesi Desainer Bisa Habiskan Ratusan Juta

3 November 2019, 15:18:50 WIB

JawaPos.com – Menjadi desainer fashion adalah profesi bergengsi yang saat ini banyak diminati. Buktinya, banyak selebriti yang juga terjun ke dunia fashion dengan memiliki label sendiri. Artinya, pekerjaan sebagai seorang desainer fashion bisa jadi pilihan potensial dan prospektif di masa depan.

Bagi para generasi Z atau remaja yang memiliki impian untuk menjadi desainer, cobalah berhitung dan melakukan riset terlebih dahulu apa saja yang harus dipersiapkan. Sebab, masuk sekolah desain fashion ternyata membutuhkan biaya yang tak sedikit lho.

Salah satunya diungkapkan desainer Defrico Audy kepada JawaPos.com di sela-sela acara Jakarta Fashion Week beberapa waktu lalu. “Dibilang mau jadi desainer mahal, pasti mahal. Karena kalau jadi desainer kita butuh modal. Kalau enggak punya modal enggak bisa jadi desainer,” tegas Defrico Audy kepada JawaPos.com.

Tapi, apa yang dikeluarkan calon desainer ini, bisa dikatakan setimpal dengan apa yang didapatkan. Defrico menyebut beberapa sekolah mode ternama yang memiliki kualitas jebolan alumni terbaik, pasti memberikan ilmu yang terbaik untuk lulusannya.

“Jadi sekolah desainer itu mahal, jarang sekolah yang murah. Jadi desainer bisa sih yang agak ringan mungkin masuk sekolah bertaraf SMK. Tapi itu kan setara SMA. Beda dengan sekolah mode yang memang punya harga standar sekolah design karena kurikulumnya mengikiti sekolah di pusatnya seperti di Paris dan Jerman,” sambungnya Defrico.

ILUSTRASI. Seorang perancang busana juga perlu memiliki bakat selain ikut sekolah mode. (Hustling hotties)

Hanya saja, ungkapnya, ingin jadi seorang desainer yang handal tak hanya cukup dengan modal besar. Mahalnya biaya sekolah fashion, kata dia, tidak akan sebanding jika tak didukung dengan bakat atau talenta yang diberikan oleh Tuhan. Sebab, desainer jebolan sekolah dengan biaya standar bisa menjadi lebih baik kualitasnya dibanding lulusan sekolah mode dengan biaya mahal.

Sementara itu, desainer Tities Sapoetra mengakui, sekolah mode memang tidak mengeluarkan biaya sedikit. Namun itu semua, masih belum cukup dibanding sekolah yang sesungguhnya ketika sudah terjun langsung ke dalam dunia industri fashion.
“Ilmu itu banyak didapat bukan dari bangku sekolah. Ketemu banyak orang, terjun ke lapangan disitulah ilmu yang kamu dapatkan. Mahalnya memang sekolah fashion mahal banget. Alat-alatnya juga. Mesin jahit dan obras. Kain-kainnya. Namun di era teknologi dan digital saat ini ketolong banget ya menghemat biaya produksi,” tegasnya.

Bisa Sampai Ratusan Juta

Lalu seberapa mahal biaya sekolah mode?

Menurut Defrico, ada sekolah mode yang menetapkan biaya masuk uang pangkal paling rendah Rp 40 juta namun banyak juga yang mencapai Rp 150 jutaan.

“Ratusan juta bisa itu baru 1 tahun ya. Baru uang masuknya, belum praktik. Nah yang membedakan hasil lulusannya adalah gift dari Tuhan itu tadi,” jelas Defrico.

ILUSTRASI. Masuk sekolah mode memang memerlukan biaya yang besar. Tapi dianggap wajar karena kurikulumnya dan peralatannya. (WiseGEEK)

Hal senada juga diungkapkan desainer fashion Ai Syarif. Desainer yang sudah berkecimpung di dunia fashion puluhan tahun itu menilai, sekolah mode bisa mahal karena memghadirkan kurikulum yang diadopsi dari negara pusat kota mode di negara Barat. Misalnya dari mulai kurikulumnya hingga pengajarnya.

“Sekolah fashion itu, di dalam satu kurikulum banyak teacher-nya. Dosennya. Pastilah ada teacher atau guru dari luar negeri. Materinya harus fokus kan. Sayang sudah bayar mahal tapi enggak fokus,” tutur Ai.

Meski begitu Ai juga mengungkapkan hal yang sama dengan Defrico, bahwa semuanya tetap membutuhkan kreativitas dan komitmen. Di era media sosial, segala ilmu bisa mudah diperoleh dari berbagai akses.

“Kuncinya harus tetap disiplin, fokus, dan komitmen. Karena lulusan sekolah desain yang biasa saja tapi kalau punya kemauan yang kuat juga bisa sukses kok,” tegasnya.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads