alexametrics

Pertanyaan di Hari Batik Nasional: Bagaimana Melestarikan Pembatik?

2 Oktober 2019, 19:05:41 WIB

JawaPos.com – Unggahan berupa foto, ucapan hingga hashtag Hari Batik Nasional memenuhi lini masa media sosial sejak pagi. Pasalnya, 2 Oktober memang diperingati Hari Batik Nasional setelah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Tapi, di tengah gegap gempita masyarakat merayakan Hari Batik Nasional, tebersit sebuah kegelisahan yang berujung pada pertanyaan ‘bagaimana melestarikan pembatik?’. Lho, kok, malah pembatiknya yang dilestarikan?

Pegiat Budaya dan Batik, Iwet Ramadhan mengungkapkan, saat ini memang batik sudah mulai dikenakan sebagai daily wear oleh masyarakat seperti kaum muda atau milenial. Namun, menggunakan busana batik saja tidaklah cukup untuk melestarikannya.

Sebab, harus diakui, beberapa masyarakat khususnya milenial masih memilih batik printing, yang harganya jauh lebih murah ketimbang batik tulis atau cap. Dari pola pembeli seperti ini, ungkap Iwet, secara tidak langsung akan memengaruhi regenarasi pembatik.

Ilustrasi kain batik tulis. Beberapa kain batik tulis yang dihadirkan dalam ‘Pigeon Batik Exhibiton’ di Pasific Place, Jakarta, Rabu (2/10). (Nurul Adriyana/JawaPos.com)

“Ketika batik tulis dibeli, maka anaknya si pembatik akan melihat kalau ada potensi penghasilan dari sana. Kalau jarang dibeli, nanti yang mau jadi pembatik jadi mikir, sudah buatnya lama terus gak ada pembeli. Mending kerja di pabrik,” papar Iwet disela-sela acara peluncuran feeding set dan botol susu Pigeon bermotif batik di Jakarta, Rabu (2/10).

Dan perlu diingat, UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia itu karena teknik dan cerita filosofinya. Bukan karena kecantikan kainnya. Sehingga dua hal itu yang harus tetap dijaga melalui para pembatik.

Sebab, jika terus-menerus membeli batik printing, yang diuntungkan tentu para pengusaha atau industri besar. Bahkan dari luar negeri.

“Intinya gembar-gembor hari batik ya mari pakai batik tulis, mari kita dukung pembatiknya. Karena yang ditetapkan itu teknik dan ceritanya,” tukas pria yang juga berprofesi sebagai penyiar radio ini.

Iwet sendiri mengakui, memang untuk membeli batik tulis yang harganya bisa mancapai jutaan masih menjadi problem dikalangan milenial. Bahkan ia sendiri mengakui belum menemukan cara yang tepat agar batik tulis bisa dinikmati dan mudah digapai oleh milenial.

Salah satunya caranya bisa memulai dengan melirik batik cap. Meski harganya juga masih terbilang lumayan dikisaran Rp 350 ribuan.

Saat dihubungi terpisah, kritikus mode Sonny Muchlison menegaskan, jangan pernah bangga memakai busana batik selama itu masih cetakan atau printing. Seni mencetak baju dengan motif batik tentunya tidak sama dengan mencanting dan memanaskan malam atau lilin pada kain.

Sonny melanjutkan, jika alasannya lantaran harga kain batik cukup mahal dibandingkan dengan printing, alasan itu sudah tidak relevan lagi. Sebab generasi muda justru rela membeli baju-baju mahal dari brand asing.

Sehingga dia menyesalkan jika pada Hari Batik Nasional, masyarakat masih bangga memposting penampilannya dengan busana printing bermotif batik. “Bagaimana kita bicara bangga dengan printing, karena itu bukan batik. Printing hanya memanfaatkan motif batik,” jelas Sonny.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah



Close Ads