alexametrics

Mengenal Konsep Batik Sustainable yang Ramah Lingkungan

2 Oktober 2019, 12:12:45 WIB

JawaPos.com – Para pegiat, perajin dan desainer saat ini terus mengusung konsep pembuatan kain batik yang sustainable atau lebih ramah lingkungan. Salah satu upayanya adalah dari sisi pewarnaan.

Pengajar Teknik Batik di Museum Tekstil Sugeng Riadi menjelaskan, pewarnaan batik sustainable mengusung konsep go green atau ramah lingkungan. Para perajin sudah paham betul untuk menggunakan pewarna alami.

“Pewarnaan batik saat ini lebih dominan pewarna sintetis (pewarna kimia). Ini jelas-jelas sangat tidak ramah lingkungan. Maka memang pewarna alami jauh lebih baik,” kata Sugeng.

Menurut Sugeng, proses pembuatan batik yang menggunakan pewrna alami akan lebih panjang ketimbang yang memakai pewarna kimia. Secara kasat mata, warnanya pun berbeda. “Kalau alami warnanya lebih soft, warna-warna tanah. Sangat menyejukkan mata jika dilihat,” ujar Sugeng.

Senada dengan Sugeng, Kritikus Mode Sonny Muchlison menilai para perajin batik sudah tahu bagaimana menjaga lingkungan dengan menggunakan pewarna yang alami. Untuk menetralkan limbahnya, kata dia, para perajin biasa menggunakan tawas.

“Untuk tidak merusak lingkungan,para pembatik sudah tahu bahwa limbah dinetralisir dengan tawas. Cara membuangnya sudah tahu. Bahkan 3 tahun lalu pemerintah daerah Pekalongan sudah pernah bilang dan menjamin, kalau sampai saya mandi di sungai dan badan saya gatal-gatal, saya akan tutup produksi batik. Artinya sudah menjamin bahwa batik yang diproduksi ramah lingkungan dan akan ada tindakan tegas,” papar Sonny.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads