alexametrics

Kritikus Mode: Jangan Bangga Pakai Batik Printing!

2 Oktober 2019, 11:40:43 WIB

JawaPos.com – Kritikus mode Sonny Muchlison menegaskan bahwa jangan pernah bangga memakai busana batik selama itu masih cetakan atau printing. Seni mencetak baju dengan motif batik tentunya tidak sama dengan mencanting dan memanaskan malam atau lilin pada kain.

Sonny menuturkan bahwa di Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober, banyak orang yang berlagak mengapresiasi batik namun yang digunakan hanya batik printing. Tak cuma itu, Sonny pun menyesali seragam anak-anak SD yang bermotif batik tapi hanya printing.

“Selama seragam SD tiap hari Jumat katanya wajib pakai batik, tapi kok printing. Lalu SMP, SMA, sampai kerja pun harus pakai baju batik tapi kok printing. Bagaimana bisa merasakan susahnya para perajin batik bisa membatik dengan proses yang lama?” tukas Sonny, Rabu (2/10).

Sonny melanjutkan, jika alasannya lantaran harga kain batik cukup mahal dibandingkan dengan printing, alasan itu sudah tidak relevan lagi. Sebab generasi muda justru rela membeli baju-baju mahal dari brand asing.

“Harga itu sudah bukan alasan. Banyak kok batik sederhana Rp 100 ribu sudah dapat. Batik asli lho ya. Tulis atau cap. Rp 300 ribuan apalagi, sudah bagus,” tegasnya.

Sonny menilai printing mirip motif batik merupakan penetrasi yang dilakukan oleh pasar tekstil Tiongkok yang melihat peluang bisnis di Indonesia. Tiongkok melihat pasar Indonesia terdiri dari 250 juta penduduk yang bisa menjadi peluang bisnis.

“Printing itu dilakukan Tiongkok pada kita. Tiongkok hanya penuhi pasar terhadap kita. Tiongkok bikin untuk 100 juta penduduk juga laku kok,” papar Sonny.

Sejak Zaman Belanda

Pembuatan batik berawal pada masa zaman penjajahan kolonial Belanda. Dalam literatur Eropa, teknik batik pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Dia pernah menjadi gubernur Inggris di Jawa saat militer Prancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte menduduki Belanda.

“Pada saat batik kita dikenal di seluruh dunia, kita harus berterima kasih pada Raffles. Dia melihat ada yang unik saat di masa penjajahan kolonial. Kalau kita ke British Museum di London, itu ada koleksi Raffles bermotif batik Parang Rusak. Di saat itulah Belanda kecolongan, kok ada motif seindah itu. Lalu dikembangkan oleh arkeolog dan hingga batik menyebar sampai saat ini,” jelas Sonny.

Dia menyesalkan jika pada Hari Batik Nasional, masyarakat masih bangga memposting penampilannya dengan busana printing bermotif batik. “Bagaimana kita bicara bangga dengan printing, karena itu bukan batik. Printing hanya memanfaatkan motif batik,” jelas Sonny.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads