Ilustrasi patung filsuf Yunani Kuno tentang dunia yang tidak berutang balasan atas kebaikan manusia.
JawaPos.com — Kepercayaan bahwa kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan adalah salah satu gagasan paling populer dalam kehidupan modern. Hal ini hidup dalam nasihat orang tua, kutipan motivasi, hingga unggahan media sosial.
Konsep karma menjadi penghibur ketika realitas terasa tidak adil, seolah ada mekanisme tak terlihat yang akan menata ulang ketimpangan pada waktunya.
Namun, pengalaman hidup sering menunjukkan pola yang berlawanan. Banyak orang yang taat aturan, bekerja keras, dan menjaga moral justru tertinggal.
Sementara itu, mereka yang lebih agresif, berani melanggar batas, atau tidak terlalu peduli pada penilaian moral tampak melaju lebih cepat. Di titik inilah muncul kegelisahan: apakah karma benar-benar bekerja?
Stoisisme, aliran filsafat yang lahir di Yunani Kuno, menawarkan cara pandang yang berbeda. Alih-alih menjanjikan balasan moral, Stoisisme melihat dunia sebagai sistem netral yang bergerak berdasarkan sebab-akibat, bukan keadilan etis.
Dilansir dari YouTube Brainy Core, Senin (12/1), keyakinan pada karma dijelaskan sebagai kepercayaan psikologis bahwa dunia pada akhirnya akan bersikap adil terhadap semua orang. Pertanyaannya, apakah asumsi ini benar-benar selaras dengan realitas? Berikut penjelasannya:
1. Ilusi Dunia Adil sebagai Mekanisme Koping Secara Psikologis
Stoisisme memandang karma bukan sebagai kebenaran, melainkan alat mental untuk bertahan. Kepercayaan ini membuat ketidakadilan terasa lebih bisa diterima karena diyakini hanya sementara.
Masalahnya, ketika ilusi ini dipegang terlalu kuat, seseorang berhenti merespons realitas apa adanya dan memilih menunggu keadilan yang tidak pernah dijanjikan.
2. Karma dan Kesalahpahaman tentang Moralitas
Dalam kerangka Stoik, karma sering disalahartikan sebagai hukum alam. Padahal, alam tidak bekerja dengan logika moral.
Banjir tidak memilih korban berdasarkan kebaikan seseorang, dan peluang tidak jatuh pada mereka yang paling patuh. Ketika kebaikan diperlakukan sebagai ‘mata uang’ untuk meraih hasil, kekecewaan menjadi tak terhindarkan.
3. Mengapa Orang Baik Justru Rentan ‘Tertinggal’ dan ‘Kalah’

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
