
Ilustrasi orang yang sangat egois tapi tidak menyadarinya (Geediting)
JawaPos.Com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah bertemu dengan seseorang yang seolah selalu menjadi pusat perhatian dalam setiap percakapan. Mereka tampak percaya diri, terbuka, bahkan terlihat cerdas secara emosional.
Namun tanpa disadari, sikap mereka sering kali berpusat hanya pada diri sendiri. Orang seperti ini tidak selalu berniat buruk—mereka hanya terjebak dalam pola pikir yang disebut egocentric bias, yakni kecenderungan untuk melebih-lebihkan peran dan kepentingan diri sendiri dalam kehidupan orang lain.
Fenomena ini umum terjadi dan bisa muncul tanpa disadari. Orang yang terlalu fokus pada dirinya sendiri cenderung sulit memahami perasaan orang lain, sering kali membuat percakapan terasa berat sebelah.
Dilansir dari laman Global English Editing, berikut adalah delapan perilaku umum yang biasanya ditunjukkan oleh orang yang sebenarnya sangat self-absorbed atau terlalu terpaku pada diri sendiri tanpa menyadarinya.
Mereka sering terlihat ceria dan penuh energi, tapi lama-lama kamu akan menyadari bahwa setiap obrolan selalu kembali pada diri mereka.
Mereka kerap memotong pembicaraan, menimpali dengan pengalaman pribadi, atau menutup cerita orang lain dengan kisah yang lebih besar. Dalam pikirannya, mereka sedang “berbagi”, padahal yang terjadi adalah perebutan perhatian.
Orang yang benar-benar sadar diri berbagi untuk terhubung. Namun orang yang terlalu fokus pada diri sendiri berbagi untuk tampil.
Mereka sering menonjolkan hal-hal pribadi seperti rutinitas kebugaran, perjalanan spiritual, atau pencapaian pribadi hanya untuk membangun citra diri yang sempurna.
Perbedaan pandangan bagi mereka bukan hal biasa, tapi ancaman. Mereka mudah tersinggung ketika dikritik dan menganggap setiap masukan sebagai bentuk penolakan.
Ini adalah ciri khas dari kepribadian dengan narcissistic fragility, yaitu kepekaan berlebihan terhadap kritik karena harga diri yang rapuh.
Mereka mungkin terlihat dermawan, tetapi kebaikan itu sering kali bersyarat. Mereka hanya membantu ketika ada keuntungan sosial atau pengakuan publik.
Begitu tidak ada penonton, perhatian mereka pun hilang. Bagi orang seperti ini, kebaikan bukan tentang empati, melainkan tentang validasi.
Ketika kamu curhat, mereka segera menimpali dengan pengalaman mereka sendiri. Alih-alih mendengarkan, mereka menjadikan ceritamu sebagai panggung untuk emosi mereka.
Psikolog menyebut ini sebagai empathic hijacking, di mana seseorang secara tidak sadar menjadikan empati sebagai alat untuk kembali membicarakan dirinya sendiri.
Mereka menganggap aturan dan batasan bersifat fleksibel, apalagi jika itu menghalangi keinginannya.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
