Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Agustus 2025 | 02.15 WIB

Bukan Hanya Kreatif, Inilah Soft Skill Tersembunyi yang Diam-Diam Jadi Kunci Sukses di Era AI

Ilustrasi wanita sedang bekerja dari rumah (Dok. Pixabay) - Image

Ilustrasi wanita sedang bekerja dari rumah (Dok. Pixabay)

JawaPos.com - Punya portofolio ciamik dan paham tools AI terbaru saja ternyata belum cukup. Di balik CV yang rapi dan sertifikat yang berderet, ada satu skill alias 'otot kognitif' yang diam-diam menentukan apakah kariermu melesat atau justru mentok.

AI hebat mengeksekusi pola yang sudah ada. Namun, pekerjaan manusia semakin bergerak ke wilayah yang ambigu, penuh ketidakpastian, dan sering tidak punya jawaban tunggal.

Di situlah cognitive complexity bekerja dengan memadukan logika, empati, intuisi, dan konteks bisnis secara bersamaan. Berikut penjelasannya!

Apa Itu Cognitive Complexity dan Kenapa Jarang Dimiliki Orang Biasa?

Dilansir dari situs Harvard Business School Working Knowledge, secara sederhana cognitive complexity diartikan sebagai kemampuan mengelola keruwetan dengan menahan godaan jawaban instan, memetakan masalah yang saling terkait, menguji asumsi, menyusun hipotesis alternatif, dan mengadaptasi strategi saat variabel bergeser.

Berdasarkan situs World Economic Forum, ini adalah kemampuan berpikir yang memungkinkan kamu melihat banyak sudut pandang, membaca pola dalam situasi yang ruwet, menimbang trade-off, lalu mengambil keputusan yang cepat tapi tetap bernas.

Kenapa Penting di Era AI?

Model AI bisa memberikan 10 opsi solusi, tetapi manusia dengan cognitive complexity yang baik tahu kapan tiap opsi dipakai, di mana batas etisnya, dan bagaimana efeknya bagi tim, pelanggan, serta reputasi perusahaan.

Dunia kerja kini lintas fungsi baik produk, data, pemasaran, legal, sampai compliance. Orang dengan cognitive complexity mampu menerjemahkan bahasa teknis ke bahasa bisnis dan sebaliknya, sehingga kolaborasi bergerak lebih cepat.

Banyak keputusan hari ini bukan 'A atau B', melainkan 'A dan B', tapi dengan porsi dan timing 'berbeda'. Misalnya, mengejar efisiensi lewat otomatisasi tanpa mengorbankan pengalaman pelanggan. Butuh cara berpikir both/and, bukan sekadar either/or.

World Economic Forum menempatkan analytical thinking dan creative thinking (komponen cognitive complexity) sebagai skill paling dicari hingga 2027. 

Keterampilan inti ini terus naik kebutuhan pasarnya hingga beberapa tahun ke depan.

Sementara itu, LinkedIn Workplace Learning menyoroti perlunya menyeimbangkan kecakapan AI dengan 'power skills' (soft skill berdampak tinggi) agar organisasi benar-benar menuai manfaat AI.

Artinya, perusahaan tidak hanya butuh orang yang bisa memakai AI, tapi yang tahu kapan, bagaimana, dan untuk tujuan apa AI dipakai.

Tanda Kamu Sudah Punya Cognitive Complexity yang Kuat

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore