
Ilustrasi orang yang hidupnya minimalis.
JawaPos.com - Mudah sekali bagi kita untuk terperangkap pada jebakan matrealisme, dimana semua hal diukur dengan uang dan menggantungkan kebahagiaan pada materi.
Mengutip dari laman UII pada Rabu (12/02) masyarakat yang terjangkit materialisme cenderung memiliki sikap hidup yang menghargai materi secara berlebihan. Materi juga menjadi tolok ukur utama dalam menilai kesuksesan seseorang.
Meskipun segala kebutuhan hidup tidak terlepas dari uang, sikap yang mengukur segala sesuatunya dengan materi ini erat kaitannya dengan merosotnya nilai-nilai sosial yang menjadi ciri khas bangsa, seperti gotong royong, sukarela, dan tanpa pamrih.
Mari kita kupas tuntas, melansir dari laman Hack Spirit pada Rabu (12/02) ada 9 kebiasaan minimalis yang membuat seseorang tidak terperangkap pada materialisme :
1. Berhenti membeli barang yang tidak penting meskipun lagi diskon
Sering kali kita tergiur untuk membeli barang hanya karena diskon dan sayang dilewatkan, dan tidak membelinya berdasarkan kebutuhan. Perubahan pola pikir kecil ini membantu kita melepaskan diri dari pengeluaran impulsif dan berfokus pada sesuatu yang benar-benar menambah nilai dalam hidup.
2. Merapikan rumah berarti merapikan pikiran
Lemari penuh dengan pakaian yang tidak pernah dipakai, laci penuh dengan gadget tidak terpakai, rak penuh dengan barang-barang, bahkan kita sendiri lupa memilikinya.
Awalnya memang sulit untuk melepaskan barang-barang. Tetapi saat memilah-milah semuanya, kita menyadari sebagian besar barang-barang itu tidak memberikan nilai tambah yang berarti bagi hidup dan hanya menghabiskan tempat.
Setelah menyumbangkan dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan, rumah saya terasa lebih ringan dan paling mengejutukan adalah pikiran juga jadi ikut ringan. Membereskan bukan hanya tentang membuang barang-barang, tapi tentang memberi ruang bagi suatu yang benar-benar penting.
3. Mengalihkan fokus dari harta benda ke pengalaman
Penelitian telah menunjukkan bahwa orang memperoleh kebahagiaan yang lebih langgeng itu berasal dari banyaknya pengalaman daripada banyaknya harta benda.
Pengalaman tidak hanya membawa kegembiraan sesaat tapi menciptakan kenangan, memperdalam hubungan, dan menambah makna hidup dengan cara yang tidak pernah dapat dilakukan oleh barang-barang materi.
4. Belajar menghargai apa yang sudah dimiliki
Selama ini kita mudah tergiur dengan baju baru, gadget baru, atau mungkin perlengkapan rumah yang baru. Tapi alih-alih berfokus pada hal yang tidak dimiliki, lebih baik membiasakan diri untuk mensyukuri hal yang sudah ada.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
