
Ilustrasi- Perempuan manipulatif yang berpura-pura baik. (Freepik)
JawaPos.com - Dalam hubungan sosial, tidak semua orang yang tampak baik di permukaan benar-benar tulus. Beberapa perempuan dapat menggunakan sikap ramah dan perhatian sebagai topeng untuk menyembunyikan niat manipulatif.
Banyak perempuan menggunakan berbagai cara halus untuk mengendalikan orang lain dan mendapatkan apa yang diinginkan tanpa terlihat sebagai pelaku manipulasi.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda perempuan yang berpura-pura baik namun sebenarnya sangat manipulatif, agar tidak terjebak dalam permainan emosional yang mereka ciptakan.
Melansir Geediting, berikut ini adalah 8 kebiasaan perempuan yang berpura-pura baik namun manipulatif, yang perlu Anda waspadai.
1) Bersikap Terlalu Manis (The Sweetness Overload)
Perempuan manipulatif sering kali bersikap berlebihan dalam hal keramahan dan pujian. Niat di balik sikap ini adalah untuk membuat orang lain merasa berhutang budi, yang pada akhirnya diharapkan memberikan keuntungan bagi mereka di masa depan.
2) Perangkap Rasa Bersalah (The Guilt Trap)
Salah satu taktik utama yang sering digunakan adalah membuat orang lain merasa bersalah. Mereka mungkin menyalahkan orang lain secara halus atau menunjukkan bahwa mereka telah berkorban banyak, padahal semuanya dilakukan untuk kepentingan mereka sendiri.
3) Topeng Kebaikan (The Mask of Kindness)
Mereka berpura-pura peduli dan selalu siap membantu, tetapi di balik itu tersembunyi motif untuk memanfaatkan situasi. Mereka akan membuat Anda merasa nyaman sebelum akhirnya memperlihatkan niat manipulatif yang sebenarnya.
4) Menggunakan Diam sebagai Senjata (The Silent Treatment)
Jika keinginan mereka tidak terpenuhi, mereka akan memberi "hukuman" dengan tidak berbicara (silent treatment). Ini adalah cara halus untuk membuat orang lain merasa bersalah atau bertanya-tanya apa yang salah, dan akhirnya tunduk pada kehendak mereka.
5) Memainkan Peran Korban (The Victim Card)
Perempuan manipulatif sering menggambarkan diri mereka sebagai korban dalam situasi apapun. Mereka menggunakan peran korban ini untuk mendapatkan simpati, bahkan ketika mereka yang sebenarnya menciptakan masalah.
6) Kebutuhan Akan Validasi yang Tak Berhenti (The Constant Need for Validation)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
