
ILUSTRASI: Ciri orang yang playing victim. (cottonbro studio)
JawaPos.com - Istilah playing victim yakni kondisi seseorang yang selalu merasa menjadi korban dalam situasi apapun. Hal ini bisa terjadi karena mentalitasnya atau ada orang lain yang ingin ia salahkan.
Kondisi ini muncul ketika seseorang merasa terdesak atau sedang dalam tekanan yang signifikan. Alhasil, pola pikir ‘seolah korban’ ini muncul untuk membantu membentengi diri dari kesalahan yang mungkin ia lakukan.
Apakah playing victim sebuah penyakit? Menurut dr. Rizal Fadli, playing victim adalah kondisi yang terjadi saat seseorang merasa dirinya merupakan korban dari hal-hal buruk yang ia alami. Hal ini biasanya dipicu oleh banyak tekanan mental dan emosional..
Baca Juga: Bikin Ketagihan! Resep Buko Pandan yang Segar dan Menggiurkan, Menu Wajib untuk Buka Puasa
Playing victim termasuk masalah kesehatan mental yang berdampak pada hubungan, pekerjaan, dan kesehatan. Sifat ini berkembang sebagai mekanisme penanganan pengalaman traumatis yang pernah dialami pada masa sebelumnya.
Kondisi ini biasanya muncul saat seorang mengalami berbagai situasi yang di mana pengidap tidak memiliki kendali/wewenang, memiliki rasa sakit emosional berkelanjutan yang mengarah pada ketidakberdayaan diri, serta pernah mengalami pengkhianatan yang dilakukan oleh orang terdekat.
Berikut ini beberapa ciri orang yang playing victim. Apakah kamu pernah menemuinya?
Salah satu ciri khas orang yang sering playing victim yakni mereka cenderung menyalahkan orang lain. Ketika mereka mengalami masalah, orang lain yang akan menjadi sasaran empuk sebagai objek yang disalahkan.
Seorang playing victim juga biasanya haus akan perhatian orang lain. Mereka akan membuat cerita seolah-olah korban untuk mendapatkan validasi dari orang lain.
Pola perilaku seperti ini pun akan terus berulang. Mereka dapat menceritakan kisah sedih dan mengeluh akan kesulitan yang dialami secara terus menerus tanpa mau mencari solusinya.
Selanjutnya yakni merasakan ketakutan dan kecemasan berlebihan. Mereka mungkin akan menunjukkan perasaan takut atau cemas ini pada situasi yang sebenarnya tidak memerlukan reaksi berlebihan.
Lalu bersikap manipulatif, dalam hal ini perilaku manipulatif dapat digunakan untuk mengontrol hubungan mereka dengan orang lain.
Jadi, mereka memeroleh keuntungan yang diharapkan tanpa memberikan apapun sebagai imbalannya.
Kemudian kurang atau bahkan tidak memiliki empati terhadap orang lain. Padahal mereka sering kali mencari simpati pada orang di sekitarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Prediksi Skor Vietnam vs Malaysia Leg 2 Semifinal AFF 2026: The Golden Star Warriors Menuju Final!
Profil Putri Juficha, Miss Earth Indonesia 2025 yang Meninggal di Usia Muda
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Ada Andik Vermansah Hingga Leo Lelis, 6 Mantan Pemain Persebaya Memperkuat Tim Promosi
Prediksi Skor Thailand vs Singapura: Gajah Perang Selangkah Lagi ke Final Piala AFF 2026!
Prediksi Skor Slovan Bratislava vs Celje di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
