← Beranda

Sejarah Lontong Cap Go Meh: Jejak Akulturasi Tionghoa–Jawa yang Jadi Simbol Rezeki dan Panjang Umur

Rian AlfiantoSelasa, 3 Maret 2026 | 21.19 WIB
MENU AKULTURASI: Sajian lontong cap go meh yang merupakan perpaduan menu peranakan Tionghoa dan Jawa ini memiliki filosofi dari isinya yang beragam.

JawaPos.com - Kalau kamu pernah merayakan Cap Go Meh di Semarang atau Surabaya, besar kemungkinan yang tersaji di meja bukanlah bola-bola ketan manis seperti di Tiongkok, melainkan sepiring lontong lengkap dengan opor ayam, sambal goreng ati, dan kuah kuning yang gurih menggoda.

Itulah Lontong Cap Go Meh, sajian khas yang lahir dari perjumpaan budaya Tionghoa Peranakan dan masyarakat Jawa pesisir di Indonesia.

Di balik tampilannya yang ramai dan penuh warna, hidangan ini ternyata menyimpan cerita panjang tentang adaptasi, percampuran budaya, hingga simbol harapan di tahun baru.

Dari Yuanxiao ke Lontong: Kisah Adaptasi di Tanah Jawa

Dalam tradisi di Tiongkok, perayaan Cap Go Meh, hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, identik dengan hidangan yuanxiao atau tangyuan, yakni bola-bola nasi ketan yang disajikan manis. Ada pula bubur putih sederhana sebagai simbol kesahajaan dan kebersamaan keluarga.

Namun ketika para perantau Tionghoa menetap di pesisir utara Jawa, terutama di Semarang dan Surabaya, tradisi itu perlahan bertransformasi. Bubur putih yang di Tiongkok bermakna baik, di Jawa justru identik dengan makanan orang sakit.

Agar lebih selaras dengan budaya lokal, bubur pun digantikan dengan lontong, makanan berbahan dasar beras yang sudah akrab di lidah Nusantara.

Dari sinilah Lontong Cap Go Meh lahir. Bukan sekadar pengganti, melainkan simbol adaptasi dan penerimaan.

Perubahan ini juga tak lepas dari sejarah sosial. Banyak pria Tionghoa yang datang merantau tanpa membawa keluarga, lalu menikah dengan perempuan Jawa.

Dari percampuran inilah muncul budaya Peranakan, termasuk dalam urusan dapur. Rempah-rempah Jawa berpadu dengan tradisi perayaan Tionghoa, menghasilkan satu hidangan yang unik dan tak ditemukan di tempat asalnya.

Makna Filosofis di Setiap Komponen

Sepiring Lontong Cap Go Meh bukan hanya soal rasa. Setiap elemen di dalamnya mengandung simbol dan doa untuk tahun yang baru.

Lontong yang berbentuk panjang dipercaya melambangkan umur panjang dan keberlanjutan hidup. Teksturnya yang padat juga diartikan sebagai keteguhan dan kekompakan keluarga.

Opor ayam dengan kuah kuning keemasan menjadi pusat perhatian. Warna kuning sering diasosiasikan dengan emas, kemakmuran, dan keberuntungan. Tak heran jika kuah santan berbumbu kunyit ini menjadi simbol harapan akan rezeki yang melimpah.

Telur pindang yang biasanya dibelah dua melambangkan awal kehidupan baru serta keutuhan keluarga. Bentuknya yang bulat mencerminkan kesempurnaan dan siklus hidup yang terus berputar.

Kemudian ada sayur labu siam atau lodeh, yang menghadirkan rasa lembut dan seimbang. Dalam filosofi Jawa, keseimbangan rasa mencerminkan harmoni hidup, tidak berlebihan, tidak kekurangan.

Tak ketinggalan bubuk koya dan sambal goreng ati. Koya yang gurih menjadi penambah cita rasa sekaligus simbol ketulusan.

Sementara sambal goreng ati dengan rasa yang lebih kuat melambangkan semangat dan rasa syukur yang membara.

Ketika semua komponen itu berpadu dalam satu piring, yang tersaji bukan sekadar makanan, melainkan perayaan identitas.

Hanya Ada di Jawa, Tak Ditemukan di Tiongkok

Menariknya, Lontong Cap Go Meh adalah fenomena kuliner yang sangat lokal. Kamu tak akan menemukannya dalam perayaan Cap Go Meh di Tiongkok. Bahkan di komunitas Peranakan lain seperti di Semenanjung Malaya, Sumatera, atau Kalimantan, sajian ini tidak sepopuler di Jawa.

Semarang dan Surabaya kerap disebut sebagai dua kota yang paling lekat dengan tradisi ini. Di sana, Lontong Cap Go Meh bukan hanya disajikan di rumah-rumah keluarga Peranakan, tetapi juga menjadi bagian dari perayaan bersama lintas etnis.

Inilah yang membuatnya istimewa. Ia bukan sekadar makanan perayaan, tetapi simbol persatuan.

Lebih dari Sekadar Menu Musiman

Meski identik dengan Cap Go Meh, kini Lontong Cap Go Meh tak lagi terbatas pada momen Imlek. Banyak rumah makan di Jawa yang menyajikannya sepanjang tahun.

Rasanya yang kaya rempah dan tampilannya yang komplet membuat hidangan ini digemari berbagai kalangan, tanpa memandang latar belakang budaya.

Di tengah tren kuliner modern, Lontong Cap Go Meh justru menjadi contoh bagaimana makanan tradisional bisa tetap relevan. Ia punya cerita, filosofi, dan rasa yang tak lekang waktu.

Jadi, saat kamu menyantap sepiring Lontong Cap Go Meh, ingatlah bahwa yang kamu nikmati bukan hanya lontong dan opor. Di dalamnya ada sejarah perantauan, pertemuan dua budaya besar, serta doa tentang panjang umur, kemakmuran, dan keharmonisan hidup.

 

EDITOR: Edy Pramana