← Beranda

Bitcoin Sempat Tembus USD 93 Ribu, Jangan Terlena, Risiko Masih Membayangi!

Rian AlfiantoSabtu, 26 April 2025 | 18.45 WIB
Ilustrasi Bitcoin, Perak, dan Emas. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Beberapa hari lalu, harga Bitcoin kembali menghijau dengan performa solid di level USD 93.000 atau naik lebih dari 5 persen dalam 24 jam. Kenaikan ini turut diikuti oleh sejumlah altcoin dan meme coin seperti Ethereum yang terapresiasi sebesar 13 persen di level USD 1,784, Solana naik 20 persen di level USD 151, serta DOGE yang turut menghijau 18,77 persen.

Selain itu, saham-saham AS juga pulih signifikan, setelah indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi lebih dari 2 persen sehari sebelumnya. Namun di sisi lain, emas justru terkoreksi sekitar 1 persen dari level tertingginya.

Merespons situasi tersebut, Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin menjelaskan kenaikan ini dipicu oleh komentar positif dari Presiden Trump dan Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent terkait pelonggaran tarif terhadap Tiongkok.

"Namun, beberapa pertimbangan mengisyaratkan bahwa reli ini bisa saja turut membawa risiko penurunan harga kembali," ujar Fahmi melalui keterangannya, Sabtu (26/4).

Dalam pidatonya, Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa tarif 145 persen terhadap Tiongkok akan turun secara substansial. Sementara itu, Scott Bessent menyebut kebijakan tarif saat ini sebagai embargo dagang yang tidak berkelanjutan, dengan harapan de-eskalasi akan terjadi dalam waktu dekat.

Pernyataan tersebut mendorong minat terhadap aset berisiko seperti aset kripto. Kenaikan pasar kripto yang dipimpin oleh sektor meme coin ini menandakan bahwa investor kemungkinan lebih memanfaatkan momentum jangka pendek untuk mendulang profit.

Selain dikarenakan banyak aset berada di kondisi jenuh jual, hal ini disebabkan oleh kebanyakan meme coin dengan kapitalisasi pasar yang cukup besar, secara umum cenderung memiliki kekuatan likuiditas dan volume perdagangan yang tinggi.

Kedua faktor tersebut akan memudahkan investor untuk keluar dari posisi yang diambilnya di tengah momentum yang ada jika sentimen positif yang ada dirasa mulai meredup.

"Akan tetapi, hal itu bukanlah satu-satunya kemungkinan yang bisa terjadi. Seperti yang kita tahu, minat investor ritel terhadap meme coin di berbagai negara cukup besar. Semakin banyaknya investor dan traders yang bergabung dengan tren yang ada dapat menahan reli untuk berlangsung lebih lama," tambah Fahmi.

Selain itu, dalam beberapa hari terakhir ini, permintaan Bitcoin dari institusi terlihat semakin pulih. Hal ini salah satunya diindikasikan oleh aliran dana masuk neto ETF Bitcoin spot yang mencatatkan angka USD 381 juta dan USD 719 juta pada 21 dan 22 April, melansir data Coinglass.

Akan tetapi, Fahmi melanjutkan, dengan masih relatif rendahnya kenaikan likuiditas secara umum di pasar kripto yang salah satunya dapat dilihat dari total nilai terkunci (TVL) yang ada di berbagai jaringan dan platform DeFi, menandakan bahwa investor dari kalangan penggemar kripto sendiri mungkin masih mengambil posisi wait and see.

"Kenaikan Bitcoin saat ini mencerminkan respons cepat pasar terhadap katalis makro, terutama kabar positif terkait geopolitik dan suku bunga. Pertimbangan tersebut turut berpotensi menjadi faktor yang dapat membuat para investor lebih waspada dalam reli kali ini, terlebih dinamika tarif AS ini telah berlangsung selama beberapa pekan sejak pertama kali mencuat," imbuhnya.

Perkembangan terkait dinamika kebijakan dan kepemimpinan di bank sentral AS, The Fed, menurut Fahmi akan menjadi kunci di situasi yang ada saat ini. Seperti diketahui, Trump ingin The Fed menurunkan suku bunga.

"Penurunan suku bunga di tengah kondisi inflasi yang ada saat ini dan potensi kenaikan inflasi di masa depan imbas telah diberlakukannya tarif impor AS dapat sangat mengkhawatirkan bagi investor yang menyimpan asetnya di instrumen seperti uang fiat atau bahkan mungkin juga surat hutang. Hal ini jika terjadi dapat memicu kenaikan harga besar-besaran di pasar kripto dan saham AS," kata Fahmi.

Di tengah situasi yang ada, investor bisa mulai mempertimbangkan untuk bersiap menghadapi kemungkinan reli besar yang dapat terjadi di pasar kripto dan saham AS. Bagi investor yang ingin mengoptimalkan keuntungan, maka strategi pengelolaan portofolio secara lebih aktif semakin menarik untuk dipertimbangkan di situasi seperti ini.

Sementara bagi investor pemula, saat ini belum tergolong telat untuk mulai berinvestasi crypto dan saham AS. Untuk investor yang masih khawatir untuk mulai mengeksplorasi aset kripto dan saham AS, investor dapat mempertimbangkan berinvestasi di aset crypto yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar dan saham AS dengan potensi pertumbuhan yang solid.

EDITOR: Estu Suryowati