← Beranda

Bitcoin dan Ethereum Tertekan, Kebijakan The Fed Bisa Tentukan Arah Pasar Kripto

Dhimas GinanjarSelasa, 18 Maret 2025 | 12.45 WIB
ILUSTRASI. Valuasi bitcoin sempat naik karena Donald Trump menang pilpres AS. (Brookings Institution)

 

JawaPos.com – Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) kembali tertekan menjelang pekan yang diprediksi penuh volatilitas. Minggu (17/3), BTC turun hampir 1,8% menjadi USD 82.700 atau sekitar Rp 1,34 miliar, sementara ETH merosot 2,5% ke USD 1.889 atau sekitar Rp 30,63 juta.

Penurunan ini sejalan dengan pelemahan pasar saham AS, di mana Dow Jones Industrial Average turun 0,37%, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 0,46% dan 0,55%.

Pelaku pasar saat ini fokus pada kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada Rabu (20/3).

Ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga pada akhir tahun masih ada, tetapi data inflasi yang tinggi dan ketahanan pasar tenaga kerja AS menimbulkan kekhawatiran bahwa The Fed akan menunda pelonggaran kebijakan moneter.

Jika The Fed mengambil sikap hawkish, aset berisiko seperti kripto bisa terkena tekanan lebih lanjut. Selama beberapa bulan terakhir, Bitcoin dan aset digital lainnya semakin berkorelasi dengan indeks saham utama AS, terutama Nasdaq.

Di sisi lain, ketidakpastian global semakin meningkat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tarif baru terhadap sejumlah negara, yang berpotensi memicu pembalasan dari Uni Eropa. Tensi geopolitik yang semakin tinggi ini semakin memperburuk sentimen pasar.

Salah satu berita yang sempat memicu euforia pasar adalah keputusan Trump untuk membentuk Strategic Bitcoin Reserve (SBR) bagi Amerika Serikat.

Namun, kegembiraan itu mereda setelah investor menyadari bahwa belum ada anggaran konkret yang dialokasikan untuk pembelian BTC dalam waktu dekat.

Bitcoin memang sempat melonjak setelah pengumuman ini, tetapi harga kembali turun begitu pelaku pasar memahami bahwa tidak ada aksi nyata dari Washington dalam waktu dekat.

Di sektor derivatif, open interest di pasar kripto masih tinggi, menunjukkan bahwa banyak trader masih menggunakan leverage besar. Data dari Coinglass menunjukkan bahwa dalam 24 jam terakhir, total likuidasi mencapai USD 253 juta (Rp 4,1 triliun).

Tingkat pendanaan (funding rates), yang sempat negatif selama aksi jual pekan lalu, kini kembali netral. Hal ini menunjukkan bahwa posisi pasar masih belum jelas, dengan sentimen yang cenderung ragu-ragu antara bullish dan bearish.

Dengan berbagai faktor ekonomi dan regulasi yang berkembang, pelaku pasar kini mencari katalis yang bisa membalikkan tren bearish.

Keputusan kebijakan The Fed, serta sinyal dari investor institusional dan regulator, bisa menjadi penentu apakah Bitcoin akan kembali naik atau justru semakin tertekan dalam beberapa pekan ke depan.

Untuk saat ini, investor kripto harus tetap waspada terhadap volatilitas pasar dan kemungkinan penundaan pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

EDITOR: Dhimas Ginanjar