Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Mei 2025 | 14.51 WIB

Jika Danantara Alokasikan 1 Persen Aset untuk Beli Bitcoin, Indonesia Jadi Negara Ketiga Kepemilikan BTC di Dunia

Ilustrasi Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com - Peningkatan pembelian institusi membuat wacana adopsi BTC sebagai instrumen investasi Danantara semakin menguat. Chief Marketing Officer (CMO) Tokocrypto Wan Iqbal menyatakan, usulan tersebut mencerminkan kemajuan pola pikir strategis dari pelaku industri terhadap peran aset kripto dalam pembangunan ekonomi nasional.

“Kami melihat usulan ini sebagai refleksi dari upaya menciptakan diversifikasi portofolio negara yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Negara seperti Amerika Serikat bahkan telah mengumumkan strategi cadangan aset digital termasuk Bitcoin, sebagai langkah strategis jangka panjang,” ujar Iqbal.

Menurut dia, jika dikelola dengan prinsip governance dan mitigasi risiko yang kuat, aset kripto seperti Bitcoin bisa menjadi bagian dari strategi diversifikasi cadangan negara. Khususnya, dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar.

Seandainya BPI Danantara mengalokasikan hanya 1 persen saja dari total asetnya yang bernilai Rp 14.670 triliun untuk membeli Bitcoin, Indonesia langsung menempati posisi ketiga sebagai negara dengan kepemilikan BTC terbesar di dunia. Tentu saja, setelah Amerika Serikat dan Tiongkok.

OJK dalam pernyataannya juga menyarankan agar Danantara mengeksplorasi instrumen investasi digital yang memiliki legalitas dan underlying yang lebih kuat. Misalnya Real World Aset (RWA) yang ditokenisasi. Dalam hal ini, tokenisasi aset riil seperti properti, proyek infrastruktur, atau komoditas berbasis blockchain dinilai memiliki potensi konkret dan lebih mudah diterima dalam kerangka hukum yang berlaku.

Iqbal juga melihat RWA sebagai jembatan penting menuju adopsi teknologi blockchain. Menurut dia, pendekatan ini memungkinkan integrasi dunia nyata dengan infrastruktur digital secara bertahap dan terukur. RWA membuka peluang bagi negara untuk mengakses likuiditas global dan meningkatkan efisiensi investasi, tanpa harus langsung terpapar risiko volatilitas tinggi dari aset kripto murni seperti Bitcoin.

Sementara itu, Pakar Investasi Universitas Surabaya (Ubaya) Putu Anom Mahadwartha justru menolak wacana tersebut. Menurutnya, pengelolaan aset yang terlalu volatil untuk lembaga investasi yang masih dalam tahap awal. ‘Saya paham bahwa orang-orang di lembaga itu pintar. Namun, menurut kripto masih sangat riskan,’ paparnya.

Dia mengusulkan agar Danantara lebih fokus ke instrumen invesment grade. Sehingga, risiko investasi bisa diukur dengan baik. Dia yakin jika memang ada perkembangan ekosistem kripto atau kompetensi Danantara meningkat, investasi kripto masih belum terlambat. (bil)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore