Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 September 2025 | 03.31 WIB

Laut Tidak Mengenal Batas Negara, Sampah Lintas Samudra Tiba di Pantai Kita

Kondisi terumbu karang di dasar laut. (DOK. ORCA)

JawaPos.com - Pencemaran di laut masih terjadi hingga kini. Penangkapan ikan secara ilegal pun belum dapat ditindak secara maksimal. Belum lagi krisis keanekaragaman hayati di tengah samudera. 

Persoalan itu menjadi sorotan Komunitas Orkestra Rakyat Cinta Samudera (ORCA) pada saat memperingati Hari Maritim Internasional yang diperingati setiap 25 September. Direktur Dermaga Nasional ORCA Aishah Gray mengatakan, ada beragam masalah laut secara global. Mulai dari krisis keanekaragaman hayati, polusi sampah, praktik penangkapan ikan ilegal (IUU), hingga kerentanan pesisir akibat perubahan iklim.  

Dalam peringatan Hari Maritim Internasional, ORCA menegaskan mendukun pada target melindungi sedikitnya 30 persen lautan pada 2030 atau yang dikenal dengan gerakan 30×30. Gerakan 30×30 merupakan langkah nyata menyelamatkan pangan, iklim, dan mata pencaharian jutaan keluarga pesisir. 

“Laut tidak mengenal batas negara. Arus mengalir, stok ikan bermigrasi, dan sampah lintas samudra tiba di pantai kita. Karena itu, solusi harus bertumpu pada komitmen global yang diterjemahkan ke aksi lokal yang terukur dan transparan,” ujar Aishah Gray kepada JawaPos.com dalam keterangannya pada Kamis (25/9). 

Dalam aksi komunikasinya, ORCA mengusung beberapa pesan. The Ocean Is Not for Sale; Ocean Is Not a Trash Bin; Protect 30 persen by 2030; Protect Fishers, Stop Illegal Fishing; No Sustainability, No Seafood; dan Coral Reefs = Life.

Direktur Dermaga Nasional ORCA Aishah Gray. (Dok. Orca)

Pesan-pesan itu menjelaskan tuntutan utama dari penggiat untuk laut. Yaitu, hentikan eksploitasi yang merusak, lindungi sumber penghidupan nelayan, dan pulihkan ekosistem kunci. 

Aishah Gray menuturkan adan beragam masalah di laut global yang saat ini kondisinya sangat mendesak. Pertama, kehilangan keanekaragaman hayati dan kerusakan habitat. Kondisinya, terumbu karang, lamun, dan mangrove menurun akibat tekanan ganda. yakni pemanasan, polusi, dan aktivitas ekstraktif. 

Kedua, overfishing dan IUU fishing. Yakni, penangkapan berlebih, termasuk alat dan praktik destruktif yang menggerus stok ikan, memukul nelayan kecil, dan mengacaukan keseimbangan ekosistem. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore