Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 Mei 2025 | 15.54 WIB

Penyebab Warna Kucing Oren Ternyata Karena Gen Langka, Peneliti Ungkap Keunikannya

Ilustrasi kucing oren. (Unsplash) - Image

Ilustrasi kucing oren. (Unsplash)

JawaPos.com – Ilmuwan dari Stanford University dan Kyushu University berhasil mengidentifikasi penyebab warna bulu oranye yang unik pada kucing.

Mengutip dari New Atlas, penelitian ini menemukan bahwa mutasi langka pada gen ARHGAP36 menyebabkan warna bulu terang yang terlihat sebagai oranye pada kucing jantan.

Mutasi tersebut berbentuk penghapusan kecil di bagian DNA non-coding yang membuat gen tersebut menjadi terlalu aktif pada sel pigmen atau melanosit.

Tim dari Stanford menganalisis 51 varian pada kromosom X milik kucing jantan berwarna oranye, kemudian berhasil menyempitkan kandidat menjadi tiga, dan akhirnya satu varian tunggal yang menjadi penyebab utama.

“Mutasi ini bertindak sebagai saklar untuk menghasilkan fitur berwarna terang, bukan cokelat atau hitam,” ujar Christopher Kaelin, ilmuwan genetika dari Stanford University.

Penelitian ini juga menjelaskan mengapa warna oranye hampir selalu muncul pada kucing jantan.

Kucing jantan hanya memiliki satu kromosom X, sehingga jika mutasi ini ada, seluruh bulunya akan berwarna oranye.

Sebaliknya, kucing betina memiliki dua kromosom X dan sangat kecil kemungkinan memiliki mutasi ini di kedua kromosomnya.

Itulah sebabnya kucing betina cenderung memiliki pola belang seperti calico atau tortoiseshell.

Profesor Hiroyuki Sasaki dari Kyushu University menjelaskan bahwa pola oranye dan hitam pada kucing calico terjadi karena satu kromosom X dalam setiap sel akan dimatikan secara acak di awal perkembangan.

“Saat sel membelah, ini menciptakan bercak dengan gen warna aktif yang berbeda-beda,” jelasnya.

Fenomena ini telah menjadi contoh klasik dalam pembelajaran inaktivasi kromosom X, meskipun gen yang bertanggung jawab baru teridentifikasi sekarang.

Gen ARHGAP36 sebelumnya diketahui hanya aktif di jaringan neuroendokrin dan tidak pernah dikaitkan dengan pewarnaan bulu.

“Saat kami menemukannya, ARHGAP36 tidak memiliki kaitan apa pun dengan pigmen,” kata Kaelin.

Gen ini tidak aktif pada sel pigmen manusia, tikus, maupun kucing non-oranye.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore