JawaPos Radar

Penderita Kanker Payudara Meningkat, Lakukan Mamografi Sebelum Telat

26/05/2018, 16:08 WIB | Editor: Novianti Setuningsih
Surabaya Health Season 2018
Surabaya Health Season 2018, Kenali dini kanker payudara sebelum terlambat. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Kanker payudara hingga saat ini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi perempuan di seluruh dunia. Hal itu menjadi perhatian Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Konsultan Hematologi Onkologi Medik Siloam Hospitals Surabaya, Prof Dr dr Ami Ashariati, SpPD-KHOM, FINASIM.

Menurutnya, satu dari delapan wanita di dunia punya potensi besar mengidap kanker payudara. Bahkan, hingga saat ini jumlah penderita masih terus meningkat. Khususnya pada perempuan berusia di atas 40 tahun, yakni berkisar dua persen setiap tahunnya.

Prof. Ami mengungkapkan bahwa penyebab dari meningkatnya penderita kanker payudara pada perempuan berusia di atas 40 belum bisa dipastikan. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang bisa dijadikan peringatan bagi perempuan. Mulai menstruasi dini, terlambat menopause, penggunaan pil KB berlarut-larut, aktivitas fisik yang kurang, dan obesitas pada postmenopause.

Mamografi
Siloam Hospital Surabaya memiliki promo screening mamografi, sebesar Rp 500 ribu. (Istimewa)

Kemudian, lanjutnya, peningkatan risiko kejadian ditemukan tiga kali lebih berpotensi menyerang perempuan dengan ibu atau saudari (first degree relative) menderita kanker payudara. Atau yang memiliki sanak saudara yang memiliki riwayat pernah menderita kanker endometrium, ovarium, dan korektal.

Sementara itu, Dokter Spesialis Bedah sekaligus Konsultan Onkologi Siloam Hospitals Surabaya, dr Heru Purwanto, SpB(K) Onk, juga mengungkapkan sekitar 50 hingga 70 persen kanker payudara ditemukan sudah pada stadium tiga dan empat.

"Sebesar 80 persen kanker payudara dimulai dengan adanya benjolan. Dari benjolan itu, lebih dari 80 persen awalnya diketahui pesien sendiri," ujarnya.

Tanda lainnya berupa keluarnya cairan dari puting susu, nyeri, payudara tidak simetris, nipple discharge, dan kulit yang berubah seperti kulit jeruk. Jika hal-hal tersebut terjadi, dia menyarankan jangan tunda berkonsultasi dengan tenaga medis.

Selama lebih dari 12 tahun mengatasi pasien kanker payudara, Dokter Heru menjadikan secondary prevention sebagai primadona untuk menekan angka kejadian. Misalnya, melakukan sadari (pemeriksaan payudara sendiri), pemeriksaan klinis, dan mamografi.

"Sadari harus jadi rutinitas tiap bulan. Sebaiknya pada hari ke tujuh hingga ke-10 terhitung dari hari pertama menstruasi," jelas dr Heru.

Langkah lain adalah melakukan mamografi. Terutama, bagi perempuan berusia di atas 35 tahun. Sebab, melalui mamografi bisa mendeteksi yang non-palpable (belum teraba tumor) tapi tumor itu sudah ada.

Spesialis Radiologi Siloam Hospitals Surabaya Dr dr Anggraeni Dwi S, SpRad (K), menambahkan bahwa mamografi juga membantu tenaga medis mendeteksi kanker payudara sebelum ada benjolan. Dengan demikian akan semakin mudah ditangani.

Untuk meningkatkan akurasi, lanjutnya, ultrasonografi atau kombinasi keduanya juga kerap dilakukan. Khusus perempuan di atas 50 tahun, dianjurkan mamografi setahun sekali dengan pertimbangan yang sangat hati-hati. Untuk usia di bawah 50 tahun (di atas 35 tahun), dianjurkan mempunyai data dasar untuk mamografi. Selanjutnya tiga tahun sekali hingga usia 50 tahun.

Kendati demikian, menurutnya, tren penderita kanker payudara yang semakin muda menjadikan perempuan harus makin waspada. Untuk itu, membantu deketsi dini, Siloam Hospitals Surabaya memiliki promo screening mamografi, sebesar Rp 500 ribu.

"Walau masih 25 tahun, punya faktor risiko dan merasa ada benjolan secepatnya datang ke pusat kesehatan untuk dicek," tukas dr Anggraeni.

(jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up