JawaPos Radar | Iklan Jitu

Ekosistem Sehati TeleCTG Tingkatkan Layanan Kesehatan di Kupang

24 Januari 2019, 21:14:09 WIB
TeleCTG, aplikasi sehati TeleCTG, TeleCTG bidan kupang
Ilustrasi: penerapan TeleCTG melalui aplikasi smartphone, Ibu Sehati dan Bidan Sehati. (Screenshot/telectg.co.id)
Share this

JawaPos.com – Perkembangan teknologi semakin menjalar ke segala nadi kehidupan. Termasuk untuk membantu menekan angka kematian bayi maupun ibu hamil. Dialah TeleCTG yang hadir sebagai perangkat telemedicine untuk memperbaiki sistem pencatatan dan rujukan ibu hamil melalui monitoring yang dilakukan oleh kader dan bidan.

CEO dan Founder Sehati TeleCTG Dr. Ari Waluyo, SpOG menerangkan, TeleCTG ini berfungsi untuk mengetahui detak jantung bayi, pergerakan bayi, dan kontraksi ibu hamil. Sebagai alat medis yang terjangkau, TeleCTG berbeda dengan CTG konvensional yang harganya sudah di atas 100 juta. TeleCTG ini portabel sehingga mudah dibawa ke daerah terpencil dan cara pengoperasiannya pun relatif mudah.

“Penerapan perangkat TeleCTG dilakukan secara simultan dengan pemberian informasi dan edukasi serta pendampingan ibu melalui aplikasi Ibu Sehati dan Bidan Sehati yang dapat difungsikan sebagai buku KIA elektronik, demi tercapainya program 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan),” katanya dalam keterangan tertulisnya, Kami s(24/1).

TeleCTG, aplikasi sehati TeleCTG, TeleCTG bidan kupang
Puskesmas di Kupang, NTT, yang menerapkan TeleCTG. (Istimewa)

Dia mengungkapkan, saat ini ekosistem Sehati TeleCTG sudah diimplementasikan oleh 14 Bidan di 14 Puskesmas di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTB) sejak 9 Desember 2018. Kupang sendiri dipilih lantaran menjadi salah satu daerah yang rawan kematian bayi maupun ibu hamil.

Salah satu penyebabnya karena kurangnya kesempatan bidan di daerah untuk berkolaborasi dengan dokter spesialis. Kemudian penyebaran dokter spesialis juga belum merata serta pemahaman ibu hamil soal pentingnya pengelolaan 1000 HPK yang baik masih menjadi persoalan mendasar.

“Melihat situasi dan kondisi di Indonesia, kami menggunakan pendekatan Telehealth. Kami membangun ekosistem untuk memperluas upaya promotif dan preventif melalui telemedicine dan pemberdayaan sumber daya manusia menggunakan teknologi,” ungkap Ari.

Sejauh ini pihaknya mengaku sudah berkolaborasi dengan regulator, dokter spesialis untuk consultation centre, dan membangun komunitas bidan serta ibu yang diperkuat dengan Aplikasi Bidan Sehati, Aplikasi Ibu Sehati, dan alat kesehatan berbasis telemedicine yang disebut TeleCTG (telecardiotography) yang berfungsi untuk membantu mendeteksi faktor risiko ibu dan janin serta memonitor kesejahteraan janin.

“Semuanya saling terhubung dalam satu platform database guna mempermudah usaha penelusuran dan pengawasan perawatan kehamilan dan proses pengelolaan persalinan yang lebih baik,” terangnya.

Ari menambahkan, implementasi ekosistem Sehati TeleCTG melalui peran serta 14 bidan di 14 puskesmas di Kabupaten Kupang ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kualitas kesehatan di wilayah tersebut.

“Kami ingin menyediakan akses terhadap pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, khususnya selama 1000 HPK. Pemeriksaan kehamilan yang lebih baik dilakukan dengan menerapkan ekosistem Sehati TeleCTG dengan tujuan akhir terjadinya deteksi dini faktor risiko pada ibu hamil sebagai salah satu upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi, dan Stunting yang masih tinggi di Indonesia,” pungkasnya.

Editor           : Fadhil Al Birra

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up