JawaPos Radar

Ternyata Cek Kesehatan Tak Dianjurkan Saat Haid, Berikut Penjelasannya

09/05/2018, 06:35 WIB | Editor: Novianti Setuningsih
Medical Check up
Ilustrasi cek kesehatan (medical check up) yang dilakukan oleh perempuan. (hellosehat)
Share this

JawaPos.com - Medical check up merupakan rangkaian pemeriksaan kesehatan di rumah sakit untuk memeriksa kondisi tubuh secara keseluruhan. Selain sebagai pemeriksaan rutin, medical check up juga berguna untuk mendeteksi secara dini penyakit yang muncul di tubuh. Khusus bagi perempuan, cek kesehatan ternyata tak dianjurkan ketika sedang haid. Mengapa?

Dalam keterangan tertulis hellosehat.com, Selasa (8/5), pada setiap wanita siklus menstruasinya berbeda-beda, umumnya perdarahan haid berlangsung selama 3-7 hari. Kedatangannya yang tiba-tiba bisa saja membuat perencanaan medical check up menjadi berantakan.

Oleh karena itu, melakukan medical check up saat haid tidak disarankan karena dapat mengganggu hasil tes. Meskipun, sesungguhnya tidak ada larang, tapi sebaiknya ditunda sampai haid berakhir, yakni tujuh hari setelah menstruasi (bukan hari ke-7 setelah hari pertama perdarahan).

Medical Check up
Saat haid, tidak disarankan melakukan medical check up karena dikhawatirkan akan mempengaruhi hasilnya. (hellosehat)

Pasalnya, salah satu prosedur wajib dalam pemeriksaan kesehatan adalah tes urine yang berguna untuk mendeteksi penyakit tertentu di awal kemunculannya. Sebut saja, penyakit ginjal, hati, infeksi saluran kencing, dan diabetes.

Dikutip dari Healthline, dokter akan menganalisis urine dengan tiga cara, yaitu pemeriksaan mikroskopis untuk memeriksa zat-zat kecil yang seharusnya tidak ada di dalam urin, pemeriksaan secara visual untuk memeriksa warna, bau, dan tampilan urine.

Terakhir, pemeriksaan dengan tes dipstick menggunakan strip plastik tipis yang akan ditandai dengan perubahan warna sesuai kandungan di dalam urine. Untuk memeriksa kandungan urine secara akurat, tentu diperlukan urine murni tanpa tambahan apa pun di dalamnya.

Sedangkan saat haid, urine kemungkinan besar bercampur dengan darah dan cairan keputihan. Hal ini diakibatkan area intim wanita dan lubang kencing jaraknya berdekatan, sehingga sulit untuk mendapatkan urine yang tidak tercemari oleh darah haid. Darah inilah yang nantinya bisa memengaruhi dan membuat hasil tes urine menjadi tidak akurat.

Selain itu, adanya kontaminasi pada sampel urine bisa mengarah pada diagnosis positif palsu yang membuat dokter menyimpulkan adanya kerusakan pada sistem kemih akibat adanya darah di urine. Akan tetapi, jika terpaksa maka bisa dilakukan menampung urine dengan menahan sementara laju menstruasi.

Caranya dengan menutup bukaan vagina menggunakan kain bersih atau handuk yang dapat menyerap darah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko urine terkontaminasi oleh darah.

Selain memerhatikan jadwal haid, seseorang juga perlu mempersiapkan hal lainnya untuk membantu mendapatkan hasil pemeriksaan yang akurat. Di antaranya, daftar obat yang sedang dikonsumsi, baik obat dokter maupun herbal. Kemudian, gejala dan keluhan yang selama ini dialami, riwayat kesehatan dan operasi.

Selanjutnya, berpuasa sesuai dengan anjuran dokter dan petugas medis. Serta, melepas semua perhiasan untuk melancarkan proses pemeriksaan kesehatan.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up