JawaPos Radar | Iklan Jitu

Mengapa Minum Antibiotik Harus Habis? Ini Penjelasan Dokter

19 November 2018, 17:15:59 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
antibiotik, aturan minum antibiotik,
Ilustrasi antibiotik. Seseorang biasanya dianjurkan minum antibiotik hingga habis. (Moneycontrol)
Share this

JawaPos.com - Berbagai penyakit infeksi akibat bakteri biasanya disembuhkan dengan bantuan antibiotik. Namun dunia medis kini lebih selektif dan berhati-hati memberikan antibiotik kepada pasien seiring banyaknya kasus resistensi terhadap antibiotik. Sekalipun pasien diberikan antibiotik, obat tersebut wajib habis sesuai anjuran dokter.

Direktur Umum Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Dr.dr Budiman Bela, Sp.MK menjelaskan sebelum memberikan antibiotik, diagnosis yang dilakukan dokter harus tepat. Setelah itu, maka pasien akan diberikan antibiotik sesuai standar dan harus dihabiskan.

"Diagnosisnya harus benar. Maka kami para dokter kasih sesuai standar. Bisa 3 hari, 5 hari, seminggu bahkan bisa sampai 6 bulan atau satu tahun. Tergantung penyakitnya," tegas dr. Budiman dalam konferensi pers baru-baru ini.

Menurutnya jika dianjurkan dokter harus meminumnya sampai habis, maka hal itu harus dilakukan. Sehingga tidak menimbulkan kekambuhan atau resistensi terhadap antibiotik.

"Kalau standarnya harus habis ya habis. Nanti kalau tidak bisa muncul lagi. (Iya) bisa resisten. Tetapi kalaupun minum dengan benar tapi bisa saja resistensi terjadi. Setiap minum antibiotik terjadi seleksi sehingga kuman resisten akan tetap hidup. Secara alamiah akan tetap hidup di tubuh, yang sensitif akan mati," jelasnya.

Hal senada dikatakan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) dr. Anis Karuniawati, PhD, SpMK(K). Dia menegaskan pasien tidak boleh mengulang resep antibiotik dan minum sendiri tanpa resep serta anjuran dokter.

"Tidak boleh, harus ada resep dokter. Belum tentu penyakitnya sama," ujar dr. Anis.

Menurutnya berhenti minum antibiotik sebelum waktunya bisa membuat kuman bermutasi. Selain itu, kata dia, penyimpanan antibiotik juga harus tepat agar kualitasnya terjaga.

"Bakteri adalah mahluk kecil yang mudah mengubah dirinya untuk menjadi kebal. Yang memicu menjadi kebal bisa karena kualitas obat yang menurun akibat penyimpanan yang tidak seharusnya. Kebersihan harus dijaga. Ventilasi udara dan sinar matahari harus dijaga. Berikut air bersih. Dan tidak boleh (disetop) sebelum waktunya nanti kumannya bermutasi," tutupnya.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up