alexametrics

Cerita Dua Pasien Gagal Ginjal yang Tetap Semangat

18 Agustus 2017, 09:21:16 WIB

JawaPos.com – Seseorang bisa terkena penyakit ginjal karena beberapa faktor risiko seperti diabetes, tekanan darah tinggi, sumbatan dan infeksi. Seseorang akhirnya bisa terkena penyakit ginjal tergantung kondisi masing-masing.

Ada seseorang yang membutuhkan puluhan tahun, atau ada pula seseorang yang ketika pemicunya sudah tak terkontrol bisa merusak ginjalnya. Ujung dari kerusakan ginjal disebut sebagai Gagal Ginjal Terminal (GGT) atau dalam bahasa Inggris disebut Chronic Kidney Disease (CKD). Penderitanya wajib cuci darah atau hemodialisis.

Dalam peluncuran kampanye Moving On oleh Baxter, dua pasien gagal ginjal yang tergabung dalam Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) berbagi cerita awal mula mereka terpapar hingga perjuangan menjalani serangkaian pengobatan. Pasien gagal ginjal seringkali tak semangat saat divonis karena menganggap itu adalah akhir dari segalanya.

1. Ketua KPCDI Tony Samosir
Tony merupakan pasien gagal ginjal yang berhasil menemukan donor ginjal hingga melakukan transplantasi. Sebelumnya dia harus cuci darah selama tujuh tahun atau ribuan kali.

“Dulu setiap pulang kerja saya bilang sama teman saya mau hemodialisis. Teman-teman mengira saya mau ke mana, dikira punya job sampingan. Kenapa namanya harus cuci darah? Karena biar seram dan menjadi warning bahwa ini bahaya,” tutur Tony.

Tony menjelaskan sebagai pasien, dirinya melakukan edukasi dan kampanye kepada publik bahayanya penyakit tersebut. Gagal ginjal disebut sebagai pembunuh diam-diam atau silent killer.

“Tiba-tiba saja fungsi ginjal ternyata tinggal 10-20 persen. Lalu divonis hemodialisa. Dan 70 persen pasien gagal ginjal diakibatkan diabetes dan hipertensi atau garam berlebihan,” jelasnya.

2. Anggota KPCDI Ambri Lawu Trenggono
Ambri sebelumnya selama tiga tahun melakukan cuci darah atau hemodialisis. Belakangan, ternyata Ambri menemukan cara lebih tepat untuk pengobatan yang lebih efisien dan mudah. Yakni Peritoneal Dialysis. PD adalah terapi yang dilakukan sendiri di rumah oleh pasien. Terapi bekerja di dalam tubuh, menggunakan lapisan perut (membran peritoneal) sebagai filter alami untuk menghilangkan racun dari aliran darah. Cairan PD akan berada di dalam rongga sebelum pengeringan. Proses kemudian berulang tiga sampai empat kali dalam setiap sesi terapi. Cairan dengan konsentrasi dektrosa yang lebih tinggi kadang-kadang digunakan untuk menghapus jumlah cairan dan racun yang lebih tinggi yang dapat ditarik dari tubuh

“PD, telah memberikan keleluasaan bagi saya untuk tetap aktif dan hidup normal meskipun saya mengalami gagal ginjal. Satu bulan sekali saya berkonsultasi dengan dokter untuk memonitor kondisi saya, tapi selama saya mengikuti anjuran saat pergantian cairan, disiplin dengan diet dan menjalani pola hidup sehat, saya bisa memiliki hidup yang fleksibel. Saat ini saya menjalankan bisnis yang membantu sesama pasien gagal ginjal, serta mendukung keluarga saya,” ungkapnya.

Dengan pengobatan PD, Ambri justru lebih gemuk karena gizinya tercukupi. Sebelumnya Ambri mengalami hipertensi karena faktor keturunan dari sang ayah. Sejak usia 26 tahun, Ambri terkena hipertensi. Padahal dirinya tak merokok dan rajin fitness.

“Hingga akhirnya saya divonis gagal ginjal lalu harus cuci darah. Tetapi dengan PD, saya bisa tetap aktif menjalankan aktivitas. Dukungan anak dan istri sangat besar dalam hidup saya,” ungkapnya.

Editor : Muhammad Syadri

Reporter : (ika/JPC)



Close Ads
Cerita Dua Pasien Gagal Ginjal yang Tetap Semangat