alexametrics

Mengapa Difteri Bisa Sampai KLB? Ini Penjelasan IDAI

14 Januari 2018, 10:25:52 WIB

JawaPos.com – Indonesia belum lepas dari ancaman wabah penularan penyakit difteri.  Kementerian Kesehatan pun akan melanjutkan program ORI (outbreak response immunization). Tahun 2017 puluhan provinsi ditetapkan dengan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae yang menular dan berbahaya. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian akibat sumbatan saluran napas atas. Toksinnya yang bersifat patogen, menimbulkan komplikasi miokarditis, paralisis saraf kranial dan perifer, artritis, osteomielitis, gagal ginjal, gagal napas, serta gagal sirkulasi.

“Penyakit difteri itu memiliki ciri khas menutup membrane sehingga menutup jalan napas. Lalu mengeluarkan racun menyebar ke mana-mana dan bisa menyerang otot jantung. Minggu kedua terancam jantungnya rusak. Sehingga angka kematiannya tinggi,” tegas Sekretaris Satgas Imunisasi IDAI Soedjatmiko dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika baru-baru ini.

Masa inkubasi penyakit difteri yakni 2-6 hari (1-10 hari) dengan tanda dan gejala utama berupa nyeri menelan, adanya pseudomembran pada tonsil dan/atau faring dan/atau laring, serta demam tidak terlalu tinggi (pada umumnya <38,50C).

Pada kasus lebih berat dapat disertai edema jaringan lunak leher (bull neck). Difteri memiliki tanda dan gejala gangguan saluran napas adanya pseudomembran pada hidung, faring, tonsil, atau laring (dengan catatan setelah penyebab lain disingkirkan).

Kasus konfirmasi apabila terdapat tanda dan gejala gangguan saluran napas atas disertai adanya pseudomembran pada hidung, faring, tonsil, atau laring, dengan salah satu kriteria yakni hasil kultur dari swab tenggorok atau hidung positif C.

Soedjatmiko menjelaskan mengapa difteri bisa sampai membuat sejumlah wilayah berstatus KLB. Menurutnya, sejak tahun 1980an, penyakit itu memang selalu ada meski datanya fluktuasi.

“Di Jawa Timur lalu meningkat belakangan, terjadi lagi KLB. Angka kematian tinggi, jadi kami terus berusaha mencegah perluasan. Difteri ini sedikit berbeda, sebab ada sesuatu ancaman bagaimana jika keluarga kita sendiri yang kena,” paparnya.

Soedjatmiko menjelaskan jika seseorang terduga kuman difteri, maka racun di dalam tubuhnya harus dinetralisir. Setiap penderita harus membuka mulut sambil berkata A berkali-kali. Jika terlihat selaput putih tebal, maka selaput tersebut harus dicek di laboratorium.

“Semua orang tua harus buka mulut anaknya sambil bilang A. Lihat apakah di tenggorokannya ada lapisan putih yang tebal. Lalu bawa ke dokter, kemudian dicolek berdarah apa tidak. Kemudian diperiksa di laboratorium. Jika benar, maka dirawat, dimatikan kumannya, diberi antibiotik,” paparnya.

Pasien kemudian harus diisolasi agar kuman tak menjalar ke mana-mana. Semua tenaga kesehatan yang merawat pun wajib diperiksa secara berkala. Begitu pula semua keluarga penderita difteri harus divaksinasi untuk mematikan kumannya. 

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : (ika/JPC)


Close Ads
Mengapa Difteri Bisa Sampai KLB? Ini Penjelasan IDAI