JawaPos Radar

Ketahui Dampaknya, Ini Alasan Dokter Gigi Tak Pakai Teknik Veneer

13/07/2018, 09:35 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Ketahui Dampaknya, Ini Alasan Dokter Gigi Tak Pakai Teknik Veneer
Ilustasi gigi putih karena perawatan yang rutin dilakukan. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Jika ingin gigi putih dan rapi, saat ini sedang berkembangtren Veneer. Teknik ini mampu memperbaiki susunan gigi yang terlalu maju atau tak rapi. Teknik ini banyak dilakukan oleh artis. Akan tetapi pertanyaannya, jika memang bagus, mengapa dokter gigi tak ada yang mau menggunakannya sendiri?

Teknik Veneer terbagi menjadi dua yakni teknik Veneer langsung (direct) dan tidak langsung (indirect). Teknik Veneer langsung adalah menggunakan bahan tambalan atau komposit pemutih. Sedangkan teknik Veneer tak langsung menggunakan bahan porselain sehingga lebih tahan lama.

Dalam Dental Talkshow sekaligus launching Beautylogica Clinic, drg. Jeffry Susanto mengungkapkan berbagai dampak teknik Veneer. Ternyata, teknik Veneer akan mengasah gigi dan membuat cetakannya secara permanen. Veneer akan digunakan selama seumur hidup. Maka harus dilakukan oleh ahli yang tepat.

"Dampaknya apa si? Saya selalu tanya ke pasien, seberapa perlu? Kalau enggak perlu ngapain. Memang kami enak saja mengerjakannya karena memang biayanya mahal. Dan lagi tren saja, jadi berbondong-bondong mau veneer," katanya dalam konferensi pers, Jumat (13/7).

Akan tetapi, jika memang ingin mempercantik diri dan senyuman, Jeffry mempersilahkan siapa saja ingin Veneer. Namun harus mengetahui dampaknya terlebih dahulu.

"Kalau menurut saya Veneer dilihat dari kebutuhan pasien. Saya tanya dulu ke pasiennya, kenapa enggak whitening saja kalau mau putih? Kalau whitening hanya disinarin lalu dikasih gel, nanti warna akan putih. Lalu tak permanen kayak Veneer. Sampai nenek-nenek juga masih ada tuh Veneer, enggak mungkin dikembalikan," tukas Jeffry.

Jika terlalu tebal atau terlalu putih tak sesuai dengan warna kulit, Jeffry menilai Veneer akan tak cocok pada seseorang. Sebab membuat mulut seolah tebal dan sulit menutup.

"Apalagi kebayang kan kalau terlalu putih pakai lipstik merah, terus kulit tubuhnya enggak putih. Waduh seolah menonjol sekali giginya," ungkap Jeffry tertawa.

Dampak lainnya, kata dia, jika Veneer hanya bersifat tambalan, maka pasien harus rutin merawatnya datang ke dokter gigi berbeda jika dibanding Veneer porselain. Kemudian, seseorang yang giginya diveneer, maka tak akan bisa makan sewajarnya seperti orang yang tidak diveneer.

"Tak boleh lagi makan keras-keras, kacang, kuaci, lalu enggak boleh gigit plastik buka bungkus makanan, sebab nanti veneernya enggak bagus," jelas Jeffry.

Selain itu, jika tidak dilakukan dengan tepat dalam mengasahnya, akan membuat gigi dan gusi meradang. Akibatnya bisa membuat bau mulut. Meskipun bau mulut juga bisa disebabkan oleh karang gigi. Maintanance atau perawatan yang dibutuhkan adalah 3-4 tahun untuk jenis Veneer porselain.

"Maka jika pertanyaannya, Kenapa dokter gigi enggak ada yang mau diveneer? Jawabannya karena kita tahu Veneer itu seperti apa," tutup Jeffry tersenyum.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up