JawaPos Radar

Jangan Abaikan, Cegah Infeksi Difteri Dengan Imunisasi

02/03/2018, 08:00 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Jangan Abaikan, Cegah Infeksi Difteri Dengan Imunisasi
Dokter Spesialis Anak RS Siloam Asri Jakarta, dr. Dave Anderson Sp.A (Rieska Virdhani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kementerian Kesehatan terus melaksanakan ORI (outbreak response immunization) untuk memberantas penularan wabah difteri. Hingga saat ini, tindakan ORI sudah dilakukan di 28 provinsi.

Tapi, agar wabah tak terulang, cakupan imunisasi harus dilakukan lebih luas hingga mencapai di atas 90 persen. 

Dokter Spesialis Anak RS Siloam Asri Jakarta, dr. Dave Anderson Sp.A mengungkapkan para orang tua harus memahami pentingnya imunisasi bagi anak. Sebab, banyak orang tua merasa imunisasi anaknya sudah lengkap padahal belum.

"Saat ditelusuri melalui Kartu Menuju Sehat atau riwayat imunisasinya, ternyata belum lengkap imunisasinya padahal bilangnya lengkap. Bisa jadi karena kurang pemahaman. Maka dari itu imunisasi sangat penting," kata Dave kepada JawaPos.com, Kamis (1/3).

Saat ini, imunisasi adalah salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah penularan infeksi difteri. Sehingga, jika ada program imunisasi masal dari pemerintah melalui puskesmas, sebaiknya diikuti guna mendapatkan perlindungan yang maksimal dari paparan infeksi difteri.

Bukan hanya bicara anak-anak, mereka yang telah kontak dengan penderita difteri harus segera diperiksa. Jika perlu diberikan terapi antibiotik pencegahan. Sedangkan, untuk pengobatan difteri, biasanya akan diberikan antibiotik (penisilin atau eritoromisin) dan toksin antidifteri.

Disamping itu, penanganan difteri juga akan memperhatikan gangguan jalan napas serta pemantauan jantung, saraf dan ginjal.

Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan kuman Corynebacterium Diphteriae. Kuman ini menghasilkan racun yang menyebabkan gangguan di tubuh. Penyebarannya melalui kontak dengan percikan atau cairan yang diproduksi dari saluran napas atau dari lesi kulit.

Gejala penyakit ini muncul dalam dua hingga lima hari setelah terinfeksi. Kuman menyerang sistem pernapasan juga dapat merusak jantung, sistem saraf dan ginjal.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up