alexametrics

5 Fakta Penting Soal Balita Stunting

20 September 2019, 20:50:34 WIB

JawaPos.com – Balita kerdil atau stunting akibat malnutrisi kronis bisa menpengaruhi daya kognitif sang anak di usia sekolah. Selain itu, pertumbuhannya juga tentu akan terhambat seiring usia yang terus bertambah.

Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) menunjukkan, prevalensi balita stunting di tahun 2018 mencapai 30,8 persen dimana artinya 1 dari 3 balita mengalami stunting. Terlebih, Indonesia juga merupakan negara dengan beban anak stunting tertinggi ke-2 di Kawasan Asia Tenggara dan ke-5 di dunia. Para ahli gizi bersama Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) mengedukasi kepada masyarakat tentang pentingnya peran gizi dalam penanganan stunting.

Beberapa ahli gizi mengungkapkan fakta seputar balita stunting yang bisa berdampak serius pada kesehatan buah hati. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius para calon orang tua khususnya ibu untuk memperhatikan asupan nutrisi selama kehamilan hingga 1000 hari pertama kehidupan atau balita usia 2 tahun.

 

1. Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan
Kondisi stunting akan berdampak serius bagi kesehatan anak baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak jangka pendek meliputi perkembangan tubuh anak yang terhambat, performa anak yang menurun di sekolah, peningkatan angka kesakitan dan risiko kematian. Sedangkan untuk dampak jangka panjang dari stunting adalah obesitas, peningkatan risiko penyakit tidak menular, bentuk tubuh pendek saat dewasa, serta penurunan produktivitas dan kualitas hidup anak di masa mendatang.

“Stunting hanya bisa teratasi selama periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun dan masa di mana otak anak berkembang pesat,” kata Dokter Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak Rumah Sakit Ciptimangunkusumo (RSCM)
Prof. Dr. dr. Damayanti R Sjarif, Sp.A(K).

 

2. Pentingnya ASI dan Gizi Seimbang
ASI eksklusif penting diberikan. Pada tahap pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI), orang tua harus memperhatikan pola asupan gizi yang seimbang. “ASI selama 6 bulan pertama dan dapat diteruskan hingga anak berusia 2 tahun. Terutama untuk memberikan asupan karbohidrat, lemak tinggi dan protein hewani,” jelas Damayanti.

 

3. Pentingnya Pantau Status Gizi Anak
Dalam pencegahan stunting, pemantauan status gizi dan antopometri anak perlu dilakukan secara berkala. Deteksi dini status gizi balita dilakukan secara berjenjang mulai dari Posyandu, Puskesmas hingga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Jika di Posyandu ditemukan anak dengan berat badan atau tinggi badan tidak mencukupi, perlu dirujuk segera ke Puskesmas.

“Jika di Puskesmas didapati penyakit penyerta lain atau growth faltering maupun gizi buruk, maka anak akan di rujuk ke RSUD untuk mendapatkan diagnosis medis dari Dokter Spesialis Anak. Bahkan pada beberapa kondisi medis tertentu, apabila diperlukan, pasien akan disertai dengan preskripsi PKMK (Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus) untuk membantu mengejar ketertinggalan berat badan dan tinggi badan mereka”, kata Damayanti.

 

4. Pentingnya Susu dan Asupan Protein Hewani
Ahli Gizi Marudut Sitompul dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) menyampaikan asupan protein paling baik dapat diperoleh dari sumber protein hewani yaitu telur dan susu karena memiliki nilai cerna dan bioavailabilitas paling tinggi. Telur dan susu juga mengandung asam amino esensial lebih lengkap untuk mendukung pertumbuhan linear anak-anak.

Pada kenyataannya, asupan protein hewani pada anak-anak di Indonesia tergolong rendah. Dalam salah satu studi ditemukan bahwa asupan protein hewani yang rendah ini berkontribusi terhadap tingginya prevalensi stunting. Anak yang tidak mengkonsumsi jenis protein hewani apapun memiliki risiko lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang mengonsumsi tiga jenis protein hewani yaitu telur, daging, dan susu.

Dibandingkan makanan sumber protein hewani lainnya, susu paling erat hubungannya dengan angka stunting yang rendah karena konsentrasi plasma insulin-like growth factor (IGF-I) dan IGF-I/IGFBP-3 pada anak usia 2 tahun secara positif berkaitan dengan panjang badan dan asupan susunya. Sayangnya, di Indonesia usia pemberian susu tergolong terlambat karena banyak setelah anak berusia lebih dari 1 tahun. Kondisi ini meningkatkan risiko stunting sebanyak 4 kali pada anak usia 2 tahun.

 

5. Tambah Pengetahuan Soal Stunting
Banyak ibu atau orang tua tidak mengerti soal asupan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Kepala Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKM UI Ahmad Syafiq menegaskan bahwa anak dengan gizi buruk tidak melulu disebabkan oleh tak adanya asupan, tetapi memang kurangnya pengetahuan orang tua.

“Diperlukan analisis dan pendekatan gizi kesehatan masyarakat untuk dapat secara efektif merancang program yang berbasis evidens dan berfokus pada pencegahan. Terobosan pencegahan stunting juga perlu melibatkan seluruh stakeholders (pemangku kepentingan) dan memberdayakan masyarakat agar semua pihak mampu terlibat secara aktif dalam upaya penurunan stunting,” katanya.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads