alexametrics

Ahli Ungkap Manfaat Mewarnai sebagai Terapi Anak Disabilitas

7 September 2019, 15:19:59 WIB

JawaPos.com – Anak dengan kebutuhan spesial atau disabilitas butuh stimulus agar kondisinya lebih baik secara mental. Caranya pun cukup beragam. Salah satunya lewat seni, yakni mewarnai.

Dilansir dari Ameridisability, Sabtu (7/9), terapi warna (atau kromoterapi) merupakan alternatif yang menggunakan warna dan cahaya untuk merawat kesehatan fisik atau mental. Caranya dengan menyeimbangkan pusat energi tubuh yang juga dikenal sebagai chakra.

Konsep ini berasal dari bangsa Mesir kuno menggunakan ruang solarium yang diaktifkan oleh sinar matahari dan dibangun dengan kaca berwarna untuk tujuan terapi. Saat ini, baik praktisi konvensional maupun holistik mengakui potensi terapi seni yang cerah termasuk mewarnai.

Menurut HealthyPlace.com, situs kesehatan mental, terapi warna didasarkan pada premis bahwa warna yang berbeda membangkitkan respons yang berbeda pada seseorang. Beberapa warna dianggap menstimulus, sedangkan yang lain mungkin menenangkan. Warna dapat memengaruhi tingkat energi, suasana hati, selera, emosi, bahkan pengambilan keputusan. Karenanya, warna dapat menjadi alat penyembuhan.

Terapi warna telah disarankan untuk mendukung anak dengan gangguan akademik, perilaku agresif , asma, gangguan hiperaktif-perhatian, tekanan darah, bronkitis, disleksia, dan ketidakmampuan belajar. Selain itu juga untuk peningkatan kinerja atletik, insomnia, lesu, kanker paru-paru, migrain, relaksasi otot, reformasi penjara, stres, fibroid rahim, dan gangguan penglihatan.

Hal senada juga diungkapkan Head of Marketing Staedtler Indonesia Pramesti Yulfia. Pihaknya mengajak anak Indonesia mengenal warna dengan mewarnai. Salah satunya dengan mendukung anak-anak disabilitas lewat kegiatan mewarnai dan berdonasi.

“Kami mengajak anak-anak Indonesia dari berbagai daerah untuk berkarya secara baik melalui rangkaian kegiatan #KaryaBaik. Rangkaian acara #KaryaBaik merupakan lomba mewarnai yang telah dilakukan di 23 kota di Indonesia. Dengan mewarnai anak menjadi kreatif, sehingga bisa mendukung teman-teman disabilitas. Caranya dengan lomba mewarnai sekaligus untuk berdonasi. Sambil mewarnai juga menyumbang untuk anak-anak disabilitas,” kata Pramesti.

Salah satu orang tua di Amerika Serikat, Margie Taylor, menceritakan tentang putranya, James, yang didiagnosis menderita Sindrom Tourette dan ADD (Attention Deficit Disorder), yaitu sebuah gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, serta susah memusatkan perhatian. Kondisi itu diderita anaknya sejak usia lima tahun. Sejak saat itu ternyata mewarnai bisa menjadi terapi untuk anaknya.

“Saya meneliti semua yang saya bisa dapatkan dan anak saya bereaksi berbeda dari kebanyakan anak-anak terhadap cahaya dan warna yang berbeda di sekitarnya. Kami menemukan bahwa James lebih stabil secara emosi, siap untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan dapat tidur dengan kamar kebiruan. Pencahayaan lembut dari lampu dan tidak ada pencahayaan overhead bekerja paling baik untuknya,” kata Margie.

Warna rona juga dikenal sebagai warna aktual membuat perbedaan besar bagi setiap individu dengan caranya sendiri. Tingkat intensitas atau saturasi dapat menciptakan rasa nyaman, aman, dan tenang. Terakhir, pencahayaan adalah sumber warna. “Bahwa warna bisa menjadi terapi dan mengubah dunia anak berkebutuhan khusus lebih ceria,” tandasnya.

Editor : Fadhil Al Birra

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads