JawaPos.com - Pernah merasakan nyeri di sisi luar kaki yang membuat berjalan menjadi menyiksa, tetapi sulit menemukan penyebabnya? Bisa jadi itu adalah cuboid syndrome, cedera tersembunyi yang kerap luput dari diagnosis meski menimbulkan rasa sakit hebat dan membatasi aktivitas.
Dilansir dari Medical News Today, cuboid syndrome adalah kondisi ketika tulang cuboid di tengah kaki bergeser sebagian dari posisi normalnya atau mengalami subluksasi pada sendi midtarsal. Tulang cuboid sendiri merupakan salah satu dari tujuh tulang tarsal yang berperan penting menjaga keseimbangan dan pergerakan kaki.
Perpindahan tulang ini biasanya terjadi karena cedera mendadak atau penggunaan sendi kaki secara berlebihan. Hasilnya, penderitanya merasakan nyeri di sisi luar kaki, tepat di sekitar pangkal jari keempat dan kelima.
Kondisi ini sering disalahartikan sebagai patah tulang stres (stress fracture), padahal fraktur pada tulang cuboid tergolong jarang. Kompleksitas anatomi kaki juga membuat cuboid syndrome sulit didiagnosis secara tepat.
Cuboid syndrome bukan masalah langka, tetapi paling sering menyerang pelari jarak jauh, pesenam, penari, dan atlet yang melakukan gerakan menahan beban berat pada kaki. Dengan penanganan medis yang tepat, kebanyakan penderita dapat pulih sepenuhnya.
Gejala dan Penyebab Cuboid Syndrome
Gejala utama cuboid syndrome adalah nyeri di sisi luar kaki yang dapat muncul tiba-tiba atau berkembang perlahan. Nyeri dapat terasa tumpul, nyeri tajam, bahkan disertai pembengkakan. Penderitanya sering mengalami kesulitan berjalan, melompat, mengangkat tumit, atau menapakkan ujung jari. Rentang gerak kaki dan pergelangan pun bisa menurun, kadang disertai sensitivitas pada telapak kaki dan nyeri yang menjalar ke pergelangan luar.
Penyebab cuboid syndrome sangat beragam. Penggunaan kaki secara berlebihan adalah pemicu paling umum, terutama pada pelari dan penari yang kerap beraktivitas intens tanpa istirahat cukup. Cedera pergelangan kaki yang terkilir ke arah dalam (inversion sprain) juga dapat memicu tulang cuboid bergeser.
Orang dengan kaki pronasi, yaitu telapak kaki yang cenderung miring ke dalam saat berjalan, lebih rentan mengalami kondisi ini. Otot betis yang kencang juga dapat menarik tulang cuboid keluar dari posisinya. Faktor lain yang memicu antara lain olahraga dengan gerakan cepat menyamping seperti tenis, menaiki tangga, memakai sepatu tidak sesuai, berlatih di permukaan tidak rata, dan kurangnya waktu pemulihan setelah aktivitas berat.
Mereka yang memiliki berat badan berlebih pun berisiko lebih tinggi karena tekanan ekstra pada tulang kaki meningkatkan kemungkinan terjadinya cuboid syndrome.
Diagnosis dan Perawatan Cuboid Syndrome
Struktur kaki yang kompleks (terdiri dari sekitar 28 tulang, 30 sendi, dan 100 otot, ligamen, serta tendon) membuat diagnosis cuboid syndrome menantang. Pemeriksaan seperti X-ray atau MRI sering kali tidak menunjukkan kelainan meski kondisi ini ada. Gejalanya pun bisa menyerupai masalah kaki lain seperti heel spur atau fraktur stres.
Untuk diagnosis yang tepat, dokter akan meninjau riwayat medis dan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh. Tujuannya untuk memastikan penyebab nyeri dan menentukan metode pengobatan terbaik.
Penanganan awal cuboid syndrome meliputi istirahat dan mengurangi aktivitas yang memberi beban pada kaki. Terapi RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) biasanya dianjurkan sebagai langkah pertama.
Jika nyeri tidak mereda, fisioterapis dapat melakukan manipulasi khusus seperti “cuboid whip” atau “cuboid squeeze” untuk mengembalikan posisi tulang. Prosedur ini dilakukan dengan gerakan cepat dan tekanan tepat pada tulang cuboid, kadang menimbulkan bunyi “pop” ketika tulang kembali ke tempatnya. Namun manipulasi tidak disarankan bagi penderita kondisi lain seperti arthritis, patah tulang, gangguan sirkulasi, atau penyakit tulang.
Perawatan tambahan termasuk penggunaan bantalan penstabil sendi tengah kaki, pemasangan taping, penggunaan ortotik untuk menjaga keseimbangan, konsumsi obat antiinflamasi, serta pijatan otot betis untuk mengurangi tarikan pada tulang cuboid. Operasi jarang dilakukan kecuali semua metode konservatif gagal meredakan nyeri.
Waktu Pemulihan dan Pencegahan
Durasi pemulihan cuboid syndrome bergantung pada lama dan tingkat keparahan cedera. Cedera ringan dapat pulih dalam beberapa hari, sedangkan kasus yang disertai cedera lain seperti pergelangan terkilir memerlukan waktu lebih lama. Fisioterapis dapat memberikan perkiraan waktu pemulihan yang lebih akurat.
Terapi fisik sangat penting untuk mempercepat pemulihan, termasuk latihan penguatan otot kaki, peregangan otot betis, serta latihan keseimbangan. Dalam beberapa kasus, penggunaan penyangga kaki atau pergelangan juga dianjurkan untuk menjaga stabilitas dan mencegah cedera ulang. (*)