← Beranda

9 Bahaya Menahan Emosi bagi Kesehatan Fisik dan Mental yang Sering Dianggap Sepele Padahal Sangat Berisiko

Alfi YudaKamis, 4 September 2025 | 04.53 WIB
Ilustrasi menahan emosi. /Freepik.

JawaPos.com - Setiap orang tentu pernah merasakan emosi, mulai dari marah, kecewa, sedih, hingga takut.

Akan tetapi, apa jadinya jika perasaan tersebut tidak diungkapkan dan justru dipendam dalam jangka waktu lama?

Menahan emosi adalah kondisi ketika seseorang menghindari, menolak, atau tidak mampu mengekspresikan perasaan yang sedang dirasakan.

Menurut penjelasan dari alodokter.com, jenis emosi yang sering dipendam biasanya berupa kemarahan, frustrasi, kesedihan, rasa takut, dan kekecewaan.

Alih-alih membuat hati lega, menahan emosi justru memberi beban lebih berat pada pikiran.

Dikutip dari itb.ac.id, tanpa disadari, kebiasaan menahan perasaan bisa memicu bahaya jangka panjang bagi kesehatan, baik bagi kesehatan mental maupun fisik.

Maka, kemampuan mengelola emosi adalah keterampilan penting yang sebaiknya dimiliki setiap orang.

Salah satu cara sederhana adalah dengan mencoba menyampaikan perasaan secara terbuka, menulis jurnal, atau melakukan kegiatan yang bisa membantu menyalurkan energi emosional, seperti berolahraga atau bermeditasi.

Jika sulit dilakukan sendiri, tidak ada salahnya meminta bantuan konselor atau psikolog.

Tidak semua emosi perlu ditahan. Jika sedang marah, kecewa, atau sedih, cobalah luapkan dengan cara yang sehat.

Mengungkapkan emosi bukan berarti lemah, justru menjadi tanda bahwa seseorang mampu mengenali perasaannya.

Berikut ini beberapa bahaya yang bisa terjadi jika Anda terlalu sering menahan emosi.

1. Sulit Mendapatkan Tidur yang Berkualitas

Emosi yang dipendam bisa memunculkan rasa gelisah dan membuat pikiran tidak tenang. Kondisi ini sering mengganggu kualitas tidur seseorang.

Saat pikiran penuh beban, tubuh pun sulit beristirahat dengan optimal sehingga berisiko mengalami insomnia.

2. Risiko Depresi Meningkat

Menahan emosi dapat memicu produksi hormon stres seperti adrenalin dan kortisol.

Peningkatan kadar hormon ini berakibat pada detak jantung yang tidak stabil, tekanan darah tinggi, hingga gangguan metabolisme.

Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat berujung pada depresi serta kecemasan berlebih.

3. Menjadi Lebih Mudah Sensitif

Seseorang yang terbiasa memendam emosi biasanya lebih cepat tersinggung, bahkan terhadap hal-hal kecil.

Perasaan sensitif ini dapat membuat interaksi sosial menjadi kurang nyaman dan memicu terjadinya konflik dengan orang sekitar.

4. Timbulnya Rasa Dendam

Tidak meluapkan perasaan negatif juga bisa membuat seseorang menyimpan dendam.

Perasaan ini kerap diwujudkan dalam perilaku pasif-agresif, seperti berkata “ya” di depan orang lain, tetapi bertindak sebaliknya di belakang.

5. Mengurangi Kemampuan Berkonsentrasi

Menahan emosi terlalu lama bisa membuat pikiran sulit fokus. Akibatnya, pekerjaan atau aktivitas sehari-hari terasa lebih berat untuk diselesaikan.

Kehilangan konsentrasi ini juga bisa menghambat produktivitas dan mengurangi rasa bahagia dalam hidup.

6. Berat Badan Mudah Bertambah

Bagi sebagian orang, makanan sering dijadikan pelarian ketika sedang menahan emosi.

Jika makanan yang dikonsumsi berlebihan dan tidak sehat, kebiasaan ini bisa menyebabkan kenaikan berat badan yang signifikan hingga meningkatkan risiko obesitas.

7. Sakit Kepala dan Migrain

Emosi yang dipendam membuat otot-otot di area wajah, seperti dahi dan alis, menegang.

Kondisi ini dapat menghambat aliran darah ke otak sehingga memicu sakit kepala maupun migrain. Tidak jarang, keluhan ini juga diikuti rasa nyeri pada leher dan bahu.

8. Hilangnya Kepercayaan dari Orang Lain

Meski merasa sudah menutupi emosi dengan baik, orang-orang terdekat biasanya tetap bisa merasakannya.

Ketika seseorang terus bersembunyi di balik ungkapan “saya baik-baik saja”, orang lain bisa menganggapnya tidak terbuka. Jika dibiarkan, hubungan sosial dapat renggang dan kepercayaan pun perlahan hilang.

9. Peningkatan Risiko Kanker

Sebuah studi dari Harvard School of Public Health dan University of Rochester pada tahun 2013 menyebutkan bahwa orang yang sering menahan emosi memiliki risiko 70 persen lebih tinggi terkena kanker.

Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan fisik sangat berkaitan erat.

EDITOR: Hanny Suwindari