JawaPos.com – Belum lama ini publik kembali digemparkan dengan kondisi kesehatan artis sekaligus presenter, Ruben Onsu.
Seperti yang kita ketahui kondisi kesehatan suami Sarwendah yakni Ruben Onsu, sejak beberapa tahun terakhir telah didiagnosis menderita Empty Sella Syndrome (ESS).
Sebagai informasi, Empty Sella Syndrome (ESS) adalah kondisi langka yang terjadi ketika kelenjar pituitari, yang terletak di dasar otak, menjadi rata atau menyusut.
Kondisi ini terjadi karena adanya masalah di dalam sella turcica, struktur tulang yang melindungi kelenjar pituitari.
ESS dapat menyebabkan berbagai gejala dan memiliki risiko tertentu, namun tidak selalu berakibat fatal. Mari kita bahas lebih lanjut mengenai penyakit ini.
Baca Juga: Ruben Onsu dan Sarwendah Dikabarkan Sudah Pisah Rumah, Begini Kata Pengacaranya
Apa itu Empty Sella Syndrome?
Dilansir dari laman Healthline, Senin (27/5), ESS adalah kondisi yang jarang terjadi, di mana kelenjar pituitari menjadi rata atau menyusut.
Hal ini dapat terjadi karena beberapa alasan, termasuk peningkatan tekanan cairan serebrospinal di sekitar otak, tumor, atau riwayat radiasi di kepala.
ESS dapat dibagi menjadi dua jenis:
-
Primary Empty Sella Syndrome (PES): Tipe primer ini terjadi tanpa penyebab yang jelas.
-
Secondary Empty Sella Syndrome (SES): Tipe sekunder ini terjadi akibat kondisi lain, seperti tumor atau cedera kepala.
Gejala Empty Sella Syndrome
Banyak orang dengan ESS tidak mengalami gejala apapun. Namun, beberapa orang mungkin mengalami gejala berikut:
-
Sakit kepala: Sering kali merupakan gejala yang paling umum.
-
Gangguan penglihatan: Dapat berupa penglihatan kabur atau ganda.
-
Disfungsi seksual: Menurunnya gairah seksual atau impotensi pada pria, dan menstruasi tidak teratur pada wanita.
-
Kelelahan: Merasa lelah atau kurang energi.
-
Tekanan darah tinggi: Peningkatan tekanan darah yang tidak normal.
-
Kebocoran cairan serebrospinal: Kondisi langka yang dapat terjadi pada beberapa kasus ESS.
Risiko Empty Sella Syndrome
ESS lebih sering terjadi pada wanita, terutama mereka yang memiliki riwayat kehamilan. Faktor risiko lain meliputi:
-
Obesitas
-
Hipertensi
-
Riwayat keluarga dengan ESS
-
Kondisi medis tertentu, seperti sindrom Turner atau sindrom Klinefelter
Apakah Empty Sella Syndrome Menyebabkan Kematian?
ESS sendiri tidak menyebabkan kematian. Namun, komplikasi yang terkait dengan ESS, seperti kekurangan hormon pituitari atau kebocoran cairan serebrospinal, dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami gejala-gejala ESS.
Baca Juga: Begini Kata Sarwendah soal Kondisi Terkini Ruben Onsu
Pengobatan Empty Sella Syndrome
Pengobatan ESS tergantung pada penyebab dan gejala yang dialami. Jika ESS tidak menimbulkan gejala, biasanya tidak memerlukan pengobatan khusus.
Namun, jika ESS menyebabkan kekurangan hormon, dokter mungkin akan meresepkan terapi penggantian hormon. Pada kasus yang jarang terjadi, pembedahan mungkin diperlukan untuk memperbaiki kebocoran cairan serebrospinal.
Penyakit Empty Sella Syndrome yang Diderita Ruben Onsu
Ruben Onsu, seorang selebriti Indonesia, didiagnosis dengan Empty Sella Syndrome. Meskipun penyakit ini dapat menimbulkan kekhawatiran, penting untuk diingat bahwa ESS tidak selalu berakibat fatal.
Dengan penanganan yang tepat dan dukungan medis, Ruben Onsu dapat menjalani hidup yang sehat dan produktif.
Baca Juga: Suara Sarwendah Bergetar Mau Menangis Disebut Menggugat Cerai Ruben Onsu
Pentingnya Kesadaran dan Deteksi Dini
ESS adalah kondisi langka yang sering kali tidak terdiagnosis. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit ini dan melakukan pemeriksaan medis secara teratur.
Deteksi dini ESS dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Itulah ulasan singkat tentang Empty Sella Syndrome (ESS), penyakit langka yang diderita Ruben Onsu. Semoga artikel ini dapat menjawab pertanyaan Anda tentang gejala, risiko, pengobatan, dan kemungkinan kematian akibat ESS.
***