World Autism Awareness Day yang diperingati tiap 2 April membawa visi untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang autis. Peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia itu memiliki makna tersendiri bagi Oky Mia dan Farah Dwi. Keduanya berbagi cerita bagaimana pola asuh dan mengajarkan kemandirian kepada buah hati dengan autisme.
---
OKY yang dikaruniai dua anak dengan autisme sudah lama berdamai dengan kondisi anaknya. Dia vokal menyuarakan hak-hak anak autis dan meningkatkan kesadaran masyarakat soal autisme lewat yayasan advokasi sadar autisme yang dia dirikan.
”Cobaan pertama rasanya mau mati bareng, cobaan kedua sudah nggak lagi. Nangis tiga hari setelah itu tidak boleh ada air mata lagi. Yang butuh saya ada dua anak, jadi lebih kuat,” ungkapnya.
Saat ditemui Jawa Pos di kediamannya pada Kamis (30/3), anak pertamanya, Chavy Hanantoseno, 27, duduk anteng mendampingi Oky. ”Ini dulu hiperaktif banget, teralis dipanjati, ada kolam langsung nyemplung, harus diawasi. Sekarang sudah bisa diam, nggak tantrum. Adiknya yang masih kadang-kadang tantrum,” ujar perempuan yang berprofesi sebagai fashion designer dan personality trainer itu.
Jika Chavy menyakiti dirinya sendiri saat tantrum, Rhavly Destareza, 24, akan memukul orang lain. Oky-lah yang menjadi sansak. Tiga tahun pandemi membawa berkah bagi Oky dan suami. Tantrum anak kedua Oky makin berkurang semenjak anggota keluarga lengkap berada di rumah.
”Dia lihat ada papanya WFH, ada mama, kok nyaman, dia nggak stres, Alhamdulillah membaik. Sesekali masih bad mood, saya minta baca taawuz biasanya,” papar Oky.
Untuk menangkalnya, Oky juga meyakinkan sang anak bahwa semua menyayanginya. Lewat kata-kata sayang dan menanyakan bagaimana perasaannya. ”Saya bilang ’mama sayang kamu’ sambil lihat matanya. Malam sebelum tidur dipijat dengan aromaterapi yang calm. Paginya ditanya kamu bahagia nggak, kalau bahagia nggak boleh tantrum,” tuturnya.
Anak autis itu, lanjut Oky, perasaan saja harus diajari. Mereka tidak tahu apa itu marah, malu, atau kecewa. Sesekali Oky akan sengaja membuat sang anak kecewa agar paham bahwa tidak semua keinginannya bisa terpenuhi. Jika tidak diajari demikian, saat kecewa anak akan tantrum.
”Misalnya, saya janjikan pergi terus nggak jadi. Dia marah kan. Kasih pemahaman tidak semua keinginannya bisa dituruti,” beber Oky. ”Tapi tidak setiap hari dikecewakan ya,” lanjutnya.
Farah Dwi Hasnitha pun menerapkan hal yang sama pada anaknya, Arroyyan, 11. Saat sang buah hati tantrum, dia akan mengalihkannya pada kegiatan yang disenangi Royyan (sapaan Arroyyan). Jika sudah sampai taraf membanting barang, Farah mengajak Royyan beristigfar. Dengan begitu, emosinya akan mereda karena harus berbicara.
”Dia kan suka nggambar ya. Gambarnya bagus. ’Abang, nggambar kereta’, itu amarahnya teralihkan. Waktu usia 4 tahun, lagi senang-senangnya baca tulis, antre ke dokter bawa buku, diajak baca tulis biar nggak bosen, anteng dia,” ungkapnya. Royyan awalnya didiagnosis ADHD. Namun, diagnosis terakhirnya autism spectrum disorder (ASD) ringan.
Semakin besar, semakin kondusif. Sebab, Royyan sudah paham kebiasaan dan tahu instruksi. Meski komunikasinya masih terbatas beberapa kata dengan orang yang dia kenal saja. ”Ke mal gitu sekarang sudah nggak harus selalu dipegang. Dipanggil namanya mau mendekat,” ujar ibu tiga anak itu.
Dulu Farah membuatkan jadwal kegiatan. Kini sang anak sudah hafal ritme kegiatan hariannya. Mulai bangun tidur, sekolah, hingga les. Di beberapa kegiatan, Farah melibatkan Royyan, seperti memasak. Dengan begitu, sekaligus melatih komunikasinya dan mengenalkan warna dan bahan.
Menurut Farah, penerimaan menjadi awal dari parenting yang baik. ”Dengan begitu, otomatis kita akhirnya lebih dekat dengan anak, mengasuhnya pun jadi lebih ringan,” imbuhnya.
Oky pun demikian. Dia mengenalkan banyak kegiatan untuk melihat minat dan potensi kedua putranya. Sejak di bangku SMA, Oky melatih kemandirian anaknya dengan mencoba berjualan di toko hingga membuat roti dan minuman untuk dijual.
”Harus sabar pokoknya. Kalau bisa memilih, mereka juga tidak mau terlahir seperti itu,” tandasnya. (lai/c9/nor)
TERAPKAN PRINSIP HADIR DALAM POLA ASUH ABK
• Hadapi dengan tenang, bijaksana, dan sabar.
• Atensi ekstra. Ucapkan kalimat sayang dan sentuhan kasih sayang.
• Dengarkan apa yang mereka maksud, pahami, kemudian artikan.
• Apabila anak menunjukkan interest atau minatnya, berikan pujian.
• Latihannya harus reguler atau teratur dan terus-menerus.
*Sumber: Dr dr Yunias Setiawati SpKJ SubSpA R(K) FISCM