JawaPos.com – Paul Alexander, seorang pengidap polio yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya dalam paru-paru besi atau iron lung, telah meninggal pada usia 78 tahun.
Polio, juga dikenal sebagai poliomielitis, adalah penyakit virus yang sangat menular yang terutama mempengaruhi anak-anak di bawah usia lima tahun.
Penyakit ini biasanya ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak dengan kotoran dari individu yang terinfeksi, atau melalui bersin atau batuk seseorang.
Baca Juga: Jadi Isu Kesehatan Bersama, Dokter dan Pakar Kanker Payudara Berkumpul di APBCS 2024
Setelah masuk ke dalam tubuh, virus polio berkembang biak di tenggorokan dan usus dan terkadang dapat menyerang sistem saraf, menyebabkan kelumpuhan.
Sementara paru-paru besi atau iron lung diperkenalkan sebagai hasil dari epidemi polio yang terjadi di Eropa dan AS selama paruh pertama abad ke-20.
Paru-paru besi pertama digunakan pada tahun 1928 untuk menyelamatkan nyawa seorang gadis berusia delapan tahun di Boston Children’s Hospital.
Baca Juga: Hati-Hati Bagi Perempuan yang Kerap Konsumsi Soft Drink! Studi Ungkap Bisa Terkena Kanker Hati
Perangkat ini adalah silinder horizontal besar yang bertindak sebagai respirator buatan, yang bekerja dengan meniru proses pernapasan manusia.
Alexander adalah salah satu dari sedikit orang terakhir yang menggunakan paru-paru besi atau iron lung karena polio.
Alexander tertular penyakit virus ini ketika berusia enam tahun, pada musim panas tahun 1952 saat ia tinggal di Texas.
Baca Juga: Inilah 4 Kebiasaan Buruk Saat Menstruasi yang Justru Menimbulkan Penyakit Berbahaya Seperti Kanker
Saat itu, vaksin polio yang efektif masih belum dilisensikan hingga tahun 1955. Meskipun banyak orang yang terkena polio tidak menunjukkan gejala apa pun, sekitar satu dari 200 orang menjadi lumpuh seumur hidup.
Di antara mereka yang lumpuh, antara lima persen hingga sepuluh persen meninggal karena otot-otot yang dibutuhkan untuk bernapas berhenti bekerja.
Penyakit tersebut membuat Paul Alexander lumpuh dari leher ke bawah dan tidak mampu bernapas sendiri, sehingga dokter menempatkannya dalam iron lung untuk membantunya bertahan hidup.
Meskipun hidupnya dibatasi oleh mesin tersebut, Alexander tidak pernah kehilangan semangat untuk berprestasi. Dia berhasil menyelesaikan pendidikan hukumnya dan menjadi seorang pengacara.
Ia bahkan menulis buku tentang pengalamannya, yang berjudul Three Minutes for a Dog (FriesenPress, 2020) dan menjadi inspirasi bagi banyak orang melalui platform media sosial.
Baca Juga: Kaum Hawa Wajib Simak! 5 Makanan Ini Bisa Jadi Penyebab Utama Kanker Payudara, Apa Saja?
Kematian Alexander diumumkan pada hari Selasa (12/3/2024) di halaman GoFundMe oleh Christopher Ulmer, seorang advokat hak-hak disabilitas Amerika yang bertemu dan mewawancarai Alexander pada tahun 2022.
“Kisahnya telah menyebar luas dan jauh, memberikan pengaruh positif kepada orang-orang di seluruh dunia, Paul adalah panutan yang luar biasa yang akan terus dikenang,” tulis Ulmer di laman GoFundMe, dilansir dari livescience.com, Kamis (14/3).
Kisah hidup Alexander adalah bukti ketangguhan dan kegigihan manusia dalam menghadapi tantangan yang tampaknya tidak mungkin. Ia meninggalkan warisan yang akan terus menginspirasi generasi mendatang.