← Beranda

Overstimulasi Tak Baik untuk Fisik dan Psikis si Kecil

Dhimas GinanjarSenin, 6 Februari 2023 | 04.21 WIB
BERI JEDA: Misalnya ketika sesi bermain atau belajar, lalu anak rewel dan menangis, bisa jadi itu ekspresi lelah atau kewalahan. Stop dulu, tenangkan si kecil. Foto hanya sebagai ilustrasi. (FOTO ILUSTRASI DIPERAGAKAN FELISHA MIKHAYLOVA WIJAYA -- FRIZAL/J
Stimulasi menjadi bagian dari pengasuhan yang perlu diberikan sejak anak lahir sebagai proses belajarnya. Kurang stimulasi berisiko membuat tumbuh kembang anak terlambat. Namun, overstimulasi juga berdampak buruk.

---

ANAK dikatakan overstimulasi apabila dibanjiri sensasi, pengalaman, dan aktivitas di luar kebutuhannya. Kebutuhan stimulasi di setiap tahapan usia tidak sama. Jangan sampai anak mendapat stimulasi di luar kapasitas dia untuk mengatasinya.

”Misalnya, overstimulasi kebisingan. Anak diajak ke acara nikahan yang ramai sekali atau nonton konser musik, padahal belum cukup umur. Volume TV terlalu kencang itu juga termasuk,” tutur Irma Gustiana A. SPsi MPsi Psikolog.

Pada beberapa anak yang overstimulasi, timbul dampak buruk pada fisiknya seperti napas tersengal-sengal atau sesak. ”Lalu, mukanya tegang, badannya kaku. Sebab, situasi itu membuat dia kewalahan,” lanjut psikolog anak, remaja, dan keluarga itu.

Jika terus-menerus overstimulasi, dampaknya bisa panjang dan mengganggu perkembangan jiwanya. Saat beranjak dewasa, anak akan selalu merasa tidak aman. Perasaannya didominasi kecemasan dan kegelisahan. ”Itu bisa terjadi jika ortunya tidak sadar. Misal, masih umur 2 tahun sudah saklek diajari baca dan tulis. Padahal, itu kebutuhan anak umur 3 tahun ke atas atau balita. Anak merasa hectic, secara mental capek,” jelas Irma.

Karena itu, ortu harus bisa mengenali tanda-tanda yang anak berikan. Misalnya, anak jadi gampang rewel dan menangis. Itu bentuk ketidaknyamanannya. ”Coba dipeluk, kemudian menjauh dari pemicu overstimulasinya. Kalau penyebabnya kegiatan yang banyak, berarti ortu harus stop,” ujar founder klinik @ruangtumbuh.id itu.

Pada saat memberikan stimulasi, lanjut Irma, ortu perlu memetakan kegiatan anak sesuai kapasitasnya. Ortu juga harus tahu kapan anak capek, jenuh, atau merasa tidak nyaman.

”Tak jarang ketika anaknya sudah capek, tapi ortunya masih terus mengajak bermain edukasi,” ungkap Irma. Justru, berikan situasi yang menenangkan supaya nanti bisa kembali diberi stimulasi.

PANDUAN STIMULASI BUAH HATI

Umur 3–6 Bulan

• Bermain cilukba dan melihat wajah di cermin

• Belajar tengkurap, telentang, dan bolak-balik

Umur 6–9 Bulan

• Belajar duduk dan berpegangan

• Panggil namanya, ajak tepuk tangan

• Bacakan dongeng

Umur 9–12 Bulan

• Lakukan stimulasi seperti usia sebelumnya

• Belajar berdiri, berjalan, berpegangan

• Mengulang kata mama, papa, kakak

• Mulai minum dari gelas

• Menggelindingkan bola dan memasukkan ke dalam wadah

Umur 12–18 Bulan

• Lakukan stimulasi seperti usia sebelumnya

• Berjalan tanpa pegangan

• Mencoret-coret

• Menyusun kubus atau puzzle

• Memasukkan dan mengeluarkan benda dari wadah

• Jalan mundur, naik tangga, menendang bola

Umur 18–24 Bulan

• Lakukan stimulasi seperti usia sebelumnya

• Tanya dan sebutkan gambar atau benda yang ditunjuk

• Tanya, sebut, dan tunjuk bagian tubuh

• Ajak bicara tentang aktivitas sehari-hari seperti makan, main, mandi

Umur 2–3 Tahun

• Lakukan stimulasi seperti usia sebelumnya

• Belajar menyebutkan warna, mengenal kata sifat (dingin, panas, banyak, sedikit)

• Sebutkan nama orang terdekat

• Belajar sikat gigi dan buang air di toilet

Umur > 3 Tahun

• Lakukan stimulasi seperti usia sebelumnya

• Belajar memegang pensil dengan baik

• Mengenal huruf dan angka

• Berhitung sederhana

• Berbagi dengan orang lain

• Membacakan buku cerita

• Bermain boneka jari
EDITOR: Dhimas Ginanjar