← Beranda

Mata Minus Bisa Picu Lepasnya Retina, Kebutaan jadi Ancaman

Estu SuryowatiMinggu, 13 Maret 2022 | 20.45 WIB
Ilustrasi mata tanpa minus. Mata minus bisa diatasi dengan metode lasik.
JawaPos.com - Seseorang dengan mata minus dikenal dengan nama istilah miopi. Seseorang dengan kondisi mata minus ternyata lebih rentan terkena Ablasio Retina Regmatogen atau Rhegmatogenous Retinal Detachment/RRD. Adalah sebuah kondisi retina mata terlepas dan memicu kebutaan.

Ketua Vitreo-Retina Service dan Dokter Spesialis Mata Subspesialis Vitreo-Retina JEC Eye Hospitals & Clinics DR.Dr. Elvioza, SpM(K), mengatakan, Ablasio Retina Regmatogen atau Rhegmatogenous Retinal Detachment/RRD merupakan kondisi lepasnya lapisan retina yang diakibatkan oleh lubang atau robekan pada retina. Kegawatdaruratan pada organ mata ini berpotensi menyebabkan kebutaan.

"Risikonya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Meski demikian, penderita miopia berusia muda ternyata memiliki risiko yang lebih tinggi terserang RRD," kata dr. Elvioza secara virtual baru-baru ini.

Retina adalah jaringan saraf di bagian belakang bola mata, berperan sangat penting dalam proses melihat. Retina memiliki fungsi menerima dan mengolah cahaya yang masuk ke mata kemudian meneruskannya ke otak untuk diterjemahkan.

"Oleh karena itu, gangguan pada retina harus ditanggapi serius karena dapat berpotensi mengganggu penglihatan secara permanen alias kebutaan," katanya

Meski belum ada data pendukung secara nasional, kejadian gangguan fungsi pada retina di tengah masyarakat perlu menjadi kekhawatiran bersama karena menjadi ancaman kebutaan yang perlu diwaspadai. Data jumlah operasi terkait gangguan retina di JEC Eye Hospitals & Clinics sepanjang 3 tahun terakhir bahkan mencapai 10 ribu tindakan.

Beberapa jenis gangguan retina yang kerap ditemukan di Indonesia, antara lain Retinopathy Diabetic, Age-related Macular Degeneration (AMD) Degenerasi Makula, Ablasio Retina dan Retinoblastoma.

Pengobatan dan Tata Laksana

Dalam penelitian 'Perbandingan Proses Penuaan Cairan Vitreus pada Pasien Ablasio Retina Regmatogen Usia Muda dengan Miopia Aksial dan Pasien Ablasio Retina Usia Lanjut Tanpa Miopia' disebutkan diagnostik retina yang meliputi wide-field fundus photography, swept source, spectral domain optical coherence tomography (OCT), OCT angiografi, ultrasonografi mata, Fundus Angiography (FA), ICG, dan Retinometri. Dengan modalitas pemeriksaan yang lengkap dan mutakhir tersebut, diagnosis kondisi retina akan menjadi lebih akurat dan dokter dapat menentukan opsi pengobatan yang tepat.

Menurut dr. Elvioza mengatakan, ablasi retina memang rentan terjadi pada orang usia di atas 50 tahun. Ditambah pada usia tersebut juga banyak orang yang juga alami miopi, sehingga memiliki dua faktor risiko.

"Pada usia muda dengan minus tinggi harus hati-hati, harus cek retinanya, apakah berpotensi terjadi ablasi retina atau terjadinya robekan," katanya.

Disarankan, seseorang dengan mata minus memeriksa mata lebih rutin. Orang dengan miopia muda diminta lebih berhati-hati, dan rutin melakukan pemeriksaan retina, minimal 6 bulan sekali.
EDITOR: Estu Suryowati