← Beranda

Propolis yang Jadi Penunjang Pemusnah Covid-19

Dhimas GinanjarSabtu, 16 Oktober 2021 | 22.48 WIB
MENYEHATKAN: Andri Prihantini menuangkan satu sendok propolis pada air seduhan lemon. Dia cukup sering mengonsumsi propolis untuk detoksifikasi dan meningkatkan imunitas tubuh. Dari hasil penelitian, propolis mengandung ratusan zat aktif berbagai golongan
Propolis termasuk herbal yang unik. Lebah memang pembuat propolis. Tapi, semua kandungan di dalamnya berasal dari tanaman, seperti resin, malam, serbuk sari, sedikit madu, dan enzim. Bagi lebah, propolis berfungsi sebagai perekat untuk sarang mereka. Bagi kita, propolis bisa digunakan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan.

---

SEJARAH pemakaian propolis sudah berusia ribuan tahun sebelum Masehi. Pada masa Mesir Kuno, propolis sudah dipakai untuk mengatasi banyak masalah kesehatan, termasuk mempercepat penyembuhan luka, antiseptik dan disinfektan rongga mulut, serta antibakteri. Sejak Perang Dunia II, propolis diketahui bermanfaat sebagai antimikroba dan antiradang.

Kualitas propolis bergantung pada kondisi geografis tempat tinggalnya. Sebab, kondisi geografis menentukan jenis tanaman yang hidup di tiap daerah. Produk buatan lebah madu itu pun bergantung pada jenis lebahnya. Ada yang bernama ilmiah Apismellifera (European honey bees), ada pula kelompok Asian honey bees.

Khasiat yang ditimbulkan propolis berasal dari ratusan zat aktif berbagai golongan yang terkandung di dalamnya. Umumnya ada 80–100 kandungan berbeda. Yang spesifik adalah senyawa fenolik, yaitu flavonoid sebagai komponen utama, asam fenolat, ester fenolat, dan fenilpropanoid. Lalu, ada terpen dan terpenoid, keton, protein, asam lemak, vitamin, mineral, enzim, dan banyak lagi.

Propolis Berfungsi sebagai Antibakteri dan Antivirus


Perhatian peneliti propolis terutama terfokus pada aktivitas antibakteri, antiviral, antiinflamatori, dan kemampuan melindungi liver. Juga, ada manfaat untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap virus dan infeksi lain, mengatasi berbagai masalah rongga mulut dan gusi, serta mengobati luka pada dinding usus dan lambung. Khasiat lain juga sudah diuji, walaupun belum sampai uji klinis, termasuk antioksidan, antibakteri, antiradang, imunomodulator, hingga antikanker.

Khasiat antibakteri propolis yang cukup kuat adalah hasil kerja zat kandungan senyawa fenol dan flavonoid konsentrasi tinggi. Kerjanya, antara lain, merusak dinding sel bakteri melalui berbagai mekanisme. Misalnya, kerusakan pada dinding sel yang menyebabkan kebocoran. Bakteri tuberkulosis dan bakteri Staphylococcus aureus dari jenis yang resistan terhadap antibiotika betalaktam, seperti penisilin, dapat dihambat.

Khusus khasiat terhadap virus sudah dilakukan berbagai uji, termasuk pada virus penyebab Covid-19. Peneliti Brasil berhasil menunjukkan efikasi yang potensial terhadap SARS-CoV-2.

Studi doking molekuler yang ditulis pada jurnal tahun 2021 itu sudah memperagakan terdapatnya afinitas ikatan antara propolis dan berbagai protein SARS-CoV-2.Termasuk protein yang ada pada mahkota virus, protein yang berperan pada replikasi virus, dan hambatan pada jalan masuk virus ke tubuh manusia. Penelitian itu juga mempelajari potensi propolis untuk obat, termasuk mekanisme distribusi, penyerapan, pengeluaran, dan toksisitas di dalam tubuh manusia. Hasilnya mendukung potensi sebagai obat untuk memusnahkan Covid-19.

Propolis Mengantisipasi Sindrom Metabolik


Kolaborasi peneliti Indonesia, Inggris, India, dan Selandia Baru mengungkap manfaat propolis untuk antisipasi sindrom metabolik. Yaitu, keadaan terdapatnya kadar gula darah tinggi, rendahnya kadar kolesterol baik, tingginya kadar trigliserida, dan tekanan darah tinggi.

Penyebab utama sindrom metabolik itu sering kali berkaitan dengan radang kronis dan meningkatnya stres oksidatif. Stres oksidatif yang meningkat mengakibatkan kerusakan sel. Kalau tidak segera diatasi, bisa terjadi penyakit kronis seperti gangguan jantung dan pembuluh darah, stroke, dan diabetes.

Dalam hal ini, aktivitas antiradang dan antioksidan propolis berperan. Khasiat itu berperan pada perlindungan fungsi jantung dan pengendalian terjadinya aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah). Uji hewan coba membuktikan kerja antioksidan dalam menurunkan kadar kolesterol darah dan meningkatkan kadar kolesterol baik. Perlindungan propolis terhadap fungsi otak juga terkait aktivitas antioksidan.

Secara in vitro, propolis menunjukkan khasiat sebagai antiangiogenik dan antiproliferatif. Antiangiogenik adalah kemampuan menghancurkan atau menghentikan suplai aliran darah pada jaringan pembuluh darah sel tumor yang menyebar. Zat kandungan caffeic acid phenethyl ester menghambat persebaran kanker, seperti kanker pada jaringan ikat kulit dan otot, adenokarsinoma.

Khasiat antiradang terbukti melalui kerja kuersetin, naringenin, dan caffeic acid phenethyl ester pada uji dengan hewan coba. Radang yang terjadi akibat berbagai jenis penyakit metabolik, seperti kardiovaskular, diabetes, dan kanker, dihambat melalui hambatan pada Nfkb. Itu adalah protein yang berperan sebagai mediator induksi gen proinflamatori.

Propolis untuk Kesehatan Rongga Mulut


Manfaat propolis menjaga kesehatan gigi dan rongga mulut sudah banyak diteliti. Itu terutama karena khasiat antibakteri, antiradang, dan antioksidan. Berbagai produk pasta gigi dan obat kumur berbahan propolis sudah tersedia. Dibandingkan yang dibuat dari bahan kimia, obat kumur propolis dapat ditelan sesudah berkumur. (*)

TIPS PENGGUNAAN PROPOLIS


Propolis tidak toksik dan aman pada dosis 70 mg/hari pada manusia.

Iritasi bisa terjadi pada pemakaian di kulit. Jadi, perlu berhati-hati pada pemakaian kosmetik yang berbahan propolis.

Biasanya orang alergi serbuk sari bunga akan alergi pada propolis juga.

Hati-hati pemakaian pada penderita asma.

Wanita hamil dan menyusui sebaiknya berhati-hati karena belum ada data riset yang memadai.

Pastikan memilih produk yang berkualitas. Bacalah dengan saksama petunjuk pemakaian yang tertulis pada kemasan.




*) Prof Dr apt Mangestuti Agil MS, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

YouTube: Kanal Kesehatan Prof Mangestuti
EDITOR: Dhimas Ginanjar