JawaPos.com – Semua orang harus mengetahui waktu tidur yang ideal ialah delapan jam setiap malamnya. Namun, jika butuh persiapan lama sebelum berbaring, itu bisa berdampak buruk pada kesehatan.
Sebenarnya normal jika memerlukan sedikit waktu untuk tertidur di malam hari, kata dokter perawatan kritis dan pengobatan tidur Brad Raper, demikian dikutip JawaPos.com dari Livestrong, Senin (27/11).
Di sisi lain, durasi sebelum terbaring lelap dapat memberikan gambaran terhadap kesejahteraan tubuh ditambah ketika melakukan sweet spot atau rentang tengah saat tertidur.
Adapun periode waktu yang dibutuhkan seseorang ketika hendak tertidur dikenal sebagai sleep latency atau latensi tidur.
Sleep latency merupakan indikator untuk menentukan kualitas tidur, semakin lama durasi sebelum memejamkan mata maka semakin rendah pula bobot tidurnya.
“Ini mengukur periode antara saat seseorang berbaring dan mulai tidur,” kata Raper.
Baca Juga: 6 Rekomendasi Warna Cat untuk Kamar Tidur Anak, Agar si Kecil Merasa Tenang dan Nyaman
Seiring berjalannya waktu, kurang tidur bisa meningkatkan resiko kesehatan seperti obesitas, tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, dan depresi, menurut National Heart, Lung, and Blood Institute.
Raper menyebut orang dewasa yang sehat dengan latensi tidur normal biasanya butuh waktu antara 10 dan 20 menit untuk benar-benar terlelap.
Latensi tidur pendek
Terlelap dalam waktu kurang dari lima menit menandakan seseorang benar-benar lelah, menurut klinik Cleveland.
Baca Juga: Apakah Tidur Tanpa Bantal Baik Untuk Kesehatan? Ketahui Berbagai Manfaatnya untuk Tubuh
Kurang tidur adalah penyebab yang paling mungkin dari sleep latency, meski jarang bisa juga menjadi tanda seseorang mengalami gangguan tidur seperti narkolepsi dan circadian rhythm disorder.
Latensi tidur panjang
Raper mengatakan menghabiskan durasi lebih dari 20 hingga 30 menit secara teratur sering kali termasuk tanda insomnia.
Hal ini bisa disebabkan oleh stres, depresi, cemas, penyakit kronis, bahkan gangguan tidur seperti restless leg syndrome atau sindrom kaki gelisah yakni keinginan menggerakan kaki setiap saat.
Mengonsumsi obat-obatan juga membuat seseorang sulit terlelap termasuk obat stimulan, bronkodilator, antidepresan non-sedasi, penghambat beta, jelas Sleep Medicine Pearls.
Baca Juga: Mengenal Kelebihan Memory Foam, Bahan Kasur yang Bikin Tidur Lebih Nyenyak dan Berkualitas
Raper menambahkan seseorang bisa mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan sebelum terlelap melalui observasi diri sederhana. Salah satunya membuat catatan harian berisi waktu akan pergi tidur dan perkiraan waktu berbaring.
Pilihan lainnya, dapat menggunakan pelacak kebugaran atau jam tangan pintar yang memiliki fitur memperkirakan waktu tidur.
“Mereka memakai sensor untuk mendeteksi gerakan dan pola detak jantung,” papar Raper.
Baca Juga: Bisa Tidur Nyenyak! Ini Pose Kiyowo Freya dan Christy JKT48 di Shopee Live yang Manis Banget
Namun, lebih lanjut bila ingin mengetahui sleep latency secara pasti dan memahami serta pengaruhnya terhadap kesehatan, disarankan menjalani studi tidur yang dilakukan profesional medis.
Adapun enam cara yang direkomendasikan para ahli untuk meningkatkan sleep latency dan kebiasaan baik sebelum memejamkan mata.
1. Pertahankan waktu tidur dan waktu bangun yang konsisten, menjaga jadwal teratur membuat seseorang lebih mudah terlelap saat hendak tidur.
2. Jaga kamar tidur tetap gelap, tenang, dan nyaman
3. Jauhi perangkat elektronik sebelum tidur, cahaya biru dari ponsel atau tablet bisa membuat seseorang tetap terbangun dan ubahlah kebiasaan dengan menulis jurnal, yoga, atau membaca
4. Hindari makan terlambat, usahakan makan malam lebih awal dan perhatikan porsinya
5. Hindari alkohol dan kafein, keduanya bisa mengganggu kualitas tidur
6. Berolahraga, menjadi aktif pada siang hari dapat membantu seseorang merasa lebih lelah ketika tiba waktunya tidur. Jika ingin dilakukan malam hari, disarankan selesaikan semuanya dalam waktu satu jam sebelum berbaring.