Hal tersebut diungkapkan Kepala Puskesmas (Kapus) Sememi dr Lolita Riamawati MKes. Ditemui kemarin (12/7), lulusan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) itu menuturkan bahwa kekhawatiran tersebut memang wajar terjadi. Sebab, tidak sedikit pengidap HIV/AIDS yang datang ke sana merupakan tulang punggung keluarga. ’’Mereka takut efek samping itu akan mengganggu aktivitas dan pekerjaan mereka sehari-hari,’’ ujarnya.
Namun, Lolita menegaskan bahwa efek samping mengonsumsi ARV tidak mesti terjadi. Pada beberapa orang, justru tidak ada efek yang dirasakan sama sekali. Itu bergantung daya tahan atau kekebalan tubuh dan mindset setiap orang. Semakin tinggi semangat, keyakinan, dan daya juangnya, akan makin ringan keluhan yang dirasakan.
’’Memang dibutuhkan niat dan komitmen yang besar dari pasien. Sebab, ARV itu harus diminum seumur hidup setiap hari. Eman kalau tiba-tiba berhenti,” ungkapnya. Jika putus minum obat di tengah jalan setelah sekian tahun, akan terjadi resistensi atau kebal obat pada pasien.
Lolita terus mengedukasi para pengidap HIV/AIDS bahwa efek samping ARV tidaklah seburuk yang mereka bayangkan. Usia penderita HIV/AIDS di sana terbilang beragam. Namun, mayoritas didominasi usia-usia produktif. Mantan tenaga medis Puskesmas Tamanan, Tulungagung, itu mengungkapkan, sebagai satu dari lima puskesmas pionir di Surabaya yang ditunjuk sebagai tempat layanan komprehensif bagi HIV/AIDS sejak 2007, pihaknya menyediakan laboratorium mini, tes konseling, hingga ruangan khusus pemeriksaan.
Beragam Efek Samping Terapi ARV
- Kehilangan nafsu makan
- Diare
- Mudah lelah
- Perubahan mood
- Depresi
- Gelisah
- Mual dan muntah
- Gangguan tidur