← Beranda

Waspada Cedera Bayi saat Persalinan

Dwi ShintiaSelasa, 28 Maret 2017 | 15.30 WIB
Ilustrasi

Sejumlah risiko mengintai persalinan pada ibu dengan panggul kecil atau janin yang terlalu besar. Salah satunya adalah cedera plexus brachialis atau sobeknya otot lengan dalam persalinan. Akibatnya, bisa terjadi kelumpuhan anggota gerak bagian atas.
---
Menurut dr spesialis ortopedi dan traumatologi RSUD dr Soetomo dr Heri Suroto SpOT, biasanya cedera itu dialami ketika tenaga medis terlalu keras menarik tangan atau bahu bayi ketika hendak keluar.


Kuatnya tarikan lengan pada bayi saat persalinan bisa membuat plexus brachialis rusak atau malah tercabut. Dalam pertumbuhannya, anak akan mengalami cacat. Bagian lengan hingga jari tangan tak bisa digerakkan. ”Kalau tidak pernah digerakkan, risikonya otot mengecil,” tuturnya.


Heri mengimbau orang tua yang memiliki buah hati dengan cedera plexus brachialis tetap memberikan stimulasi agar tangan tetap bergerak. Biasanya dokter akan melakukan pembedahan ketika usia bayi mencapai enam bulan.


Menurut Heri, ada dua cara untuk mengobati cedera tersebut. Yakni, cangkok saraf dan cangkok otot. Cangkok saraf dapat dilakukan mereka yang mengalami kelumpuhan kurang dari setahun. Jika lebih dari setahun, otot-otot bakal mati sehingga percuma bila dilakukan cangkok saraf. ”Otot mati karena tidak pernah digunakan,” ujarnya.


Jika otot sudah mati, sebaiknya dilakukan cangkok otot. Baik saraf maupun otot yang digunakan diambil dari bagian tubuh lain pasien. Untuk cangkok otot, prosesnya lebih rumit. Otot akan mati jika tidak diberi makan. Jika pasien harus menjalani cangkok otot, pembuluh darahnya mesti diperhatikan. ”Pembuluh darah itulah yang akan memberi makan otot,” jelasnya.


Dua cara itu baru bisa dilakukan pada bayi setelah usianya mencapai enam bulan. Otot dan saraf yang digunakan untuk menyambung diambil dari bagian tubuh lain. Biasanya Heri menambal dengan stem cell yang berasal dari selaput ketuban. ”Dengan cara itu, pemulihannya lebih cepat,” terangnya.


Dokter yang juga menjadi kepala bank jaringan RSUD dr Soetomo tersebut menuturkan, sebelum melakukan operasi, pasien harus melatih otot-ototnya. Caranya, tetap memfungsikan tangan. Minimal dengan gerakan ringan.


Setelah operasi, pasien tak akan bisa langsung menggerakkan tangan. Harus ada stimulasi yang rutin dilakukan. Makin rutin digerakkan, tangan bakal berfungsi. ”Yang sering terjadi, pasien putus asa karena prosesnya lama atau tidak sesuai ekspektasi,” ungkapnya.


Walaupun dia tidak menjanjikan pulih 100 persen, setidaknya fungsi tangan jauh lebih baik jika terus dilatih. Pada orang dewasa, plexus brachialis 90 persen terjadi karena kecelakaan dengan sepeda motor. Yang terjadi sama seperti pada bayi, yaitu saraf plexus brachialis sobek atau copot.


Sayang, banyaknya informasi yang salah membuat penderita putus asa saat pengobatan. Sejumlah pasien Heri tidak mendapat pengobatan pada awal cedera. ”Bukan hanya awam, di dunia medis masih ada yang memvonis penderita plexus brachialis tidak bisa sembuh,” ucapnya. (lyn/c18/ayi)

EDITOR: Dwi Shintia