← Beranda

Simak Nih Cara Tepat Tangani Sampah Elektronik demi Lingkungan Sehat

Fadhil Al BirraMinggu, 26 Februari 2017 | 19.30 WIB
dr. Lia G. Partakusuma, SpPK dan Ratu Sampah Pamerkan Tempat Sampah Elektronik

JawaPos.com – Masyarakat mengenal sampah umumnya berupa sampah rumah tangga seperti sisa makanan dan plastik-plastik bekas. Padahal jika diperhatikan, ada sampah yang berasal dari rumah menjadi perhatian khusus jika dibuang sembarangan. Sampah tersebut adalah sampah elektronik, seperti kabel, ponsel bekas atau tak terpakai, charger, bekas USB, kartu SIM ponsel, remote TV atau AC, dan berbagai komponen lainnya.   


Dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional tanggal 21 Februari, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita peduli dengan sampah elektronik. Sampah elektronik juga terdiri dari logam berat yang sering dibuang sembarangan. Hal itu bisa menyebabkan dampak gangguan kesehatan di lingkungan.


“Bisa menimbulkan gangguan organ tubuh, jika tak dikelola dengan baik. Karena kandungannya kan larut di dalam tanah dan air jika buangnya sembarangan. Sampah itu dibakar atau dibuang kan enggak bisa,” kata Direktur Penunjang RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dr. Lia G. Partakusuma, SpPK, Minggu (26/2).


Karena itu pihaknya melakukan terobosan dan inovasi menggandeng pihak lain yang memiliki lingkup kerja mendaur ulang produk teknologi. Alhasil, hal ini menjadi kampanye positif bagi lingkungan kerja rumah sakit dan pasien. Caranya dengan menyediakan tempat sampah khusus sampah elektronik (drop box) di sejumlah titik di rumah sakit.


“Ini bentuknya kampanye. Kita mulai dulu dari rumah sakit. Coba lihat anak-anak muda, tiap sebentar ganti ponsel, tiap sebentar kabelnya rusak. Itu kita coba kumpulkan, kita coba dalam 10 hari dari lingkungan rumah sakit,” kata Ketua Kompartemen Manajemen Penunjang Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia ini.


Tempat sampah khusus tersebut nantinya akan dipilah lagi mana yang bisa dibuang. Teknisnya, sampah elektronik dibuang di dalam tempat tersebut, kemudian kegiatan ini dilombakan pada seluruh satuan kerja rumah sakit. Di akhir kampanye usai 10 hari, pihak rumah sakit akan menghitung total jumlahnya.


“Siapa yang paling banyak mengumpulkan sampah ini, kita kiloin di hari terakhir. Siapa paling banya berarti peduli. Sosialisasi juga bagi pasien dan pengunjung maka tempat sampah ini akan kita taruh di lobi mulai Senin (1/3) sekalian sosialisasikan E-Waste atau limbah elektronik,” jelas Lia.


Lia menyebutkan di dalam sampah elektronik terdapat kandungan limbah yang berbahaya bagi lingkungan. Menurutnya, jika masyarakat memiliki kesadaran memilah dari awal, maka pengolahan sampah akan lebih murah.


“Ini baru hal kecil, nanti ada lagi elektronik rumah tangga yang besar, TV, kulkas dan lainnya. Para produsen harus mulai memikirkan sampah elektroniknya, bukan hanya memikirkan jualnya saja, tetapi juga sampahnya. Jika dari hulunya diolah jadi lebih murah,” kata Lia.


RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita menggandeng Ratu Sampah Sri Bebassari. Pihak rumah sakit juga berencana menyusun regulasi mengolah sampah sesuai dengan perannya sebagai ujung tombak kesehatan masyarakat. “Sampah adalah investasi. Harusnya orang kesehatan mengerti ya cuma kan kita enggak belajar ilmu sampah. Sekarang kita harus memulai mengolah sampah secara luas,” tegas Lia. (cr1/JPG)

EDITOR: Fadhil Al Birra