← Beranda

Layanan Kesehatan di Surabaya yang Bikin Lansia Happy

Suryo Eko PrasetyoSelasa, 4 April 2017 | 23.07 WIB
MEMPERMUDAH PASIEN: Baidowi (kaus hijau), petugas puskesmas, membantu Slamet Triyono di atas kursi rodanya dan Sudar yanto untuk melakukan pemeriksaan rutin di Puskesmas Balongsari Surabaya.

Pelayanan kesehatan merupakan salah satu indikator yang menjadikan Surabaya sebagai kota bahagia. Lansia dan ibu hamil menjadi perhatian pemerintah agar mereka mendapat pelayanan kesehatan yang baik. Meski begitu, tetap ada pekerjaan rumah yang harus segera dirampungkan.





PEMERINTAH Kota Surabaya semakin gencar meningkatkan pelayanan di bidang kesehatan. Salah satunya menyediakan sistem pendaftaran online bagi pasien yang akan berobat ke rumah sakit. Pelayanan tersebut sudah ada mulai puskesmas hingga rumah sakit daerah.



Jumat (31/3) Jawa Pos berkunjung ke Puskesmas Balongsari, Tandes. Tujuannya, melihat kondisi puskesmas yang dikatakan ramah lansia tersebut. Kami bertemu dengan Slamet Triyomo, 70, siang itu. Slamet merupakan salah seorang anggota paguyuban lansia di puskesmas tersebut. Kalau mengalami gangguan kesehatan, Slamet berobat dan berkonsultasi dengan dokter di puskesmas tersebut.



Menurut dia, layanan di puskesmas sudah jauh berbeda. Sudah banyak perubahan. ’’Enak sekarang. (Lansia) sudah ada jalur sendiri. Tidak perlu mengambil nomor,’’ tutur Slamet.



Hal senada diungkapkan Sofyah. Nenek 60 tahun itu merasa pelayanan Puskesmas Balongsari sudah bagus. ’’Dulu ada pelayanan yang kurang baik, lalu kami protes. Sekarang sudah diperbaiki,’’ ungkapnya.



Selain soal antrean, para lansia mendapat fasilitas mobilisasi yang cukup apik. Puskesmas yang telah mendapat predikat paripurna itu menerapkan konsep ramah lansia. Sebenarnya, pelayanan khusus lansia tersebut ada sebelum 2016. Hanya, waktu itu pelayan ada setiap Rabu dan Kamis. Baru tahun lalu pelayanan lansia dijadikan agenda setiap hari di Poli Santun Lansia.



Demi mendukung konsep ramah lansia tersebut, pihak puskesmas yang dibantu dinas kesehatan melakukan berbagai renovasi. Misalnya, menambahkan pegangan di sepanjang ruang tunggu dan kamar mandi. Selain itu, memberikan alas karet di depan kamar mandi agar pasien, terutama lansia, tidak terpeleset.



Beberapa kursi roda ditata rapi. Tujuannya, membantu para lansia yang mengalami kesulitan berjalan. Letak Poli Santun Lansia sengaja didekatkan kamar mandi. Hal itu ditujukan untuk memudahkan akses lansia yang biasanya sering buang air kecil.



Perubahan pelayanan tersebut disambut baik oleh para lansia. Mereka yang sebelumnya malas datang berobat karena harus mengantre lama jadi rajin datang. Baik untuk berobat maupun sekadar berkonsultasi.



’’Sejak ada poli santun, lansia jadi sering ke sini. Apalagi, obat bisa diberikan hingga 10 hari,’’ tutur dr Wulan Haryati, penanggung jawab Poli Santun Lansia..



Tidak sekadar memberikan pelayanan kesehatan, puskesmas tersebut juga memfasilitasi perkumpulan lansia dengan membentuk paguyuban. ’’Setiap bulan kami ada pertemuan. Mereka (lansia, Red) suka memberi masukan,’’ lanjutnya.



Para lansia anggota paguyuban selalu antusias jika ada kegiatan. Terkadang, mereka juga mengadakan rekreasi bersama dengan petugas puskesmas sebagai penanggung jawab P3K. Tujuannya hanya di sekitar Surabaya, tidak jauh.



Namun, rekreasi itu bisa dilakukan sebulan sekali. Bahkan, paguyuban tersebut kerap menjadi juara dalam beberapa perlombaan. Di antaranya, lomba gerak jalan, paduan suara, serta kuis diabetes melitus bagi orang awam.



Jadi, mereka yang lanjut usia tersebut happy saat ke puskesmas. Tidak hanya berobat, tapi juga bertemu dengan teman seusia dan berkegiatan bersama paguyuban.



Sebetulnya, pelayanan seperti itu tidak hanya ada di Puskesmas Balongsari. Hampir seluruh puskesmas di Surabaya memiliki pelayanan yang ramah lansia. Terutama dalam hal mobilitas.



Walau begitu, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Bukan soal lansia, melainkan ibu hamil, terutama angka kematian ibu melahirkan.



Tahun lalu tercatat ada 37 ibu yang meninggal saat melahirkan. Penyebab terbanyak kematian tersebut adalah eklampsia, jantung, dan pendarahan. Eklampsia ditengarai menjadi penyebab utama. Faktor keterlambatan membawa bumil (ibu hamil) ke sarana kesehatan yang mumpuni bisa menimbulkan hal buruk. Sebab, eklampsia sejatinya bisa diketahui lebih awal.



Namun, dinas kesehatan tidak kehilangan akal. Pendekatan dilakukan sejak sebelum menikah. Pendampingan dilakukan langsung kepada 315 calon pengantin. ’’Kehamilan itu kan seharusnya direncanakan. Bukan suatu hal yang kebetulan,’’ ucap Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Febria Rachmanita.



Ketika seorang ibu meninggal, risiko keluarga telantar menjadi lebih besar. Misalnya, pemenuhan gizi anggota keluarga. Persiapan sumber daya yang baik harus dilakukan sejak 1.000 hari pertama kelahiran (HPK). ’’Itulah tujuan program pendampingan calon pengantin,’’ tuturnya.



Tahun ini ada 315 calon pengantin yang akan mendapat pendampingan. Langkah tersebut dilakukan sampai anak mereka berusia 2 tahun. Dinkes akan mengerahkan 150 tenaga medis untuk melakukan pendampingan. (Dwi Wahyuningsih/Ferlynda Putri/c5/jan/sep/JPG)


EDITOR: Suryo Eko Prasetyo