JawaPos.com – Tak mudah mendidik anak usia Sekolah Dasar (SD) untuk belajar hidup bersih dan sehat. Di sekolah, tentu butuh peran guru untuk mengedukasi para siswa.
Salah satu cara mengedukasi adalah memberdayakan anak sekolah melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), di antaranya dengan menjadikan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai ujung tombak.
Untuk itu diperlukan upaya renovasi dan penyediaan perlengkapan UKS sebagai sarana edukasi pada siswa. Selain itu, juga diperlukan adanya kelas inspirasi dan kelas PHBS ke siswa sekolah.
Dengan demikian, siswa menjadi terbiasa menjaga kesehatan dan pada akhirnya generasi penerus bangsa menjadi lebih berkualitas karena status kesehatan yang lebih baik.
Dalam upaya meningkatkan PHBS tersebut, GlaxoSmithKline (GSK) sebuah perusahaan farmasi dan kesehatan berbasis penelitian bekerja sama dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik menggelar program employee volunteering (kerja sukarela bersama karyawan) bertema Orange United Week.
Bertempat di SDN Kampung Melayu 01, salah satu dari rangkaian kegiatan dalam program Orange United Week dilaksanakan dengan melibatkan puluhan siswa dan tim relawan GSK Indonesia melalui ragam aktivitas edukatif dan interaktif yang bertujuan mendukung kesejahteraan, pendidikan, dan kesehatan siswa.
General Manager (GM) dari GSK Pharmaceutical, Omar Luqmaan Harris menjelaskan tahun ini pihaknya fokus pada peningkatan kesejahteraan dan kesehatan anak. Kegiatan itu sejalan dengan program kerja sama dengan lembaga Save the Children.
"Dengan waktu pelaksanaan yang lebih panjang yaitu seminggu penuh, maka lebih banyak karyawan GSK berkesempatan untuk berkontribusi secara sukarela. Serta lebih banyak jenis kegiatan sosial bagi anak yang dapat kami selenggarakan," kata Omar, Selasa (19/12).
Ketua Pengurus Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Selina Patta Sumbung menjelaskan kesehatan anak terus menjadi prioritas di Indonesia. Sebab, memengaruhi kualitas serta potensi sumber daya manusia di masa mendatang.
Dia mengungkapkan sebanyak 84 juta anak di Indonesia, yang mewakili sepertiga populasi, masih memerlukan perhatian lebih dalam hal kesehatan dan gizi, kesejahteraan dan pendidikan, serta lingkungan tempat mereka tumbuh. Apalagi, data Riset Kementerian Kesehatan mencatat balita Indonesia yang mengalami stunting di 2015 sebanyak 29,6 persen.