JawaPos.com - Tak sedikit dari para orang tua yang masih menganggap sepele, ketika memberikan makan kepada buah hatinya. Padahal jika dicermati, ada banyak manfaat jika aktivitas itu dilakukan secara optimal.
Kepala Divisi Pengembangan Anak FEMA (Fakultas Ekologi Manusia) Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Hastuti mengatakan, makan sejatinya adalah proses belajar sejak dini pada anak. Tahapan awalnya yakni ketika bayi mulai menyusui.
Maksudnya, ketika Ibu mulai memberi ASI pada anak, harus ada interaksi yang intensif kepada si bayi. Dengan kata lain, ibu harus membangun komunikasi verbal, misalnya dengan mengajaknya bicara serta memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat nyaman bayi.
"Jangan sampai ibu asyik sendiri dengan kegiatan lain. Misalnya menelpon atau bermain handphone. Itu kurang tepat, karena akan berdampak terhadap psikis bayi," ujar dia ketika menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk 'Mari Menjadi Ibu Melek Nutrisi, Demi Wujudkan Generasi Emas 2045 di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (19/9).
Dwi menjelaskan, selama ini orang tua masih menganggap makan hanyalah aktivitas istirahat, memasukan makanan. "Yang penting masuk ke dalam tubuh. Faktanya justru tidak demikian," tambah dia.
"Makan adalah proses belajar anak dan ibu. Ketika ibu menatap dengan penuh kasih sayang, itu akan semakin mendekatkan hubungan emosional bayi. Dalam sebuah studi, ada pengaruh hormonal. Metabolisme tubuh si bayi juga lebih baik. Efisien dan sehat," beber dia.
Dalam kontes menyusui, Dwi juga menambahkan bahwa saat ibu menyusui, telinga si bayi mendengarkan detak jantung ibunya. Dan ini, lanjut Dwi, akan berpengaruh terhadap rasa nyaman bayi.
"Makanya, ibu harus membuat senyaman mungkin, karena pengaruhnya besar," pungkas dia.