alexametrics

Cegah Stunting, Perhatikan Nutrisi saat Hamil dan 3 Fase Usia Anak

30 Juli 2020, 11:52:12 WIB

JawaPos.com – Salah satu persoalan kesehatan anak yang masih dihadapi di Indonesia adalah stunting. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting di Indonesia mulai turun.

Dari 37 persen (Riskesdas 2013) menjadi 30,8 persen. Ini sejalan dengan SSGBI (Survei Status Gizi Balita Indonesia) 2019, yang menemukan angka stunting sebesar 27,7 persen. Meski angka stunting mulai turun, tetap saja berarti 3 dari 10 balita Indonesia menderita stunting.

Sebanyak 70 persen penyebab stunting disebabkan oleh hal-hal di luar kesehatan dan gizi. Termasuk di antaranya sanitasi, lingkungan, perilaku. Secara spesifik, 30 persen permasalahan stunting disebabkan oleh perilaku yang salah.

“Karenanya, perubahan perilaku menjadi hal yang sangat penting dalam upaya pencegahan stunting,” ujar Senior Technical and Liasion Adviser Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation, Widodo Suhartoyo dalam webinar baru-baru ini.

Menurutnya, perilaku masyarakat yang bisa memicu terjadinya stunting. Misalnya perilaku yang kurang baik dalam pola hidup, pola makan, dan pola pengasuhan anak. Orang tua yang pendek tidak otomatis akan memiliki anak pendek.

“Anak bisa menjadi pendek karena orang tua menerapkan pola asuh dan pola makan seperti yang diterimanya dulu. Lingkaran ini harus diputus,” tegasnya.

Pakar Nutrisi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes menjelaskan temuan-temuan di lapangan terkait perilaku yang harus diperbaiki untuk mencegah stunting. Dia menegaskan stunting adalah kondisi yang terjadi akibat kekurangan gizi kronis secara akumulatif.

Menurutnya stunting bukan melulu soal tinggi badan yang tidak tercapai. Lebih jauh lagi, kondisi ini akan menentukan kualitas-kualitas anak di kemudian hari.

Dia memaparkan, stunting berkembang selama 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Kondisi pada ibu hamil akan memengaruhi kondisi ibu saat melahirkan nanti. Maka ada 3 fase usia kehamilan dan saat anak lahir.

Yakni akan memengaruhi kondisi bayi usia 0-6 bulan, 7-11 bulan, lalu 12-24 bulan. Perjalanan inilah yang memungkinkan anak mengalami stunting.

Rita menyayangkan, banyak perilaku selama 1000 HPK yang meningkatkan kerentanan terjadinya stunting. Misalnya, masih banyak ibu hamil yang tidak paham soal stunting, dan tidak meyakini bahwa stunting bisa terjadi akibat pola makan yang salah. Sebagian ibu merasa bahwa kehamilan adalah kondisi biasa saja, jadi tidak memperbaiki pola makannya.

“Sebagian lain menganggap bahwa makan saat hamil diperuntukkan bagi dua orang. Akibatnya, hanya porsi nasi yang ditambah, agar kenyang. Belum lagi mitos untuk menghindari daging merah, makanan laut, dan kacang-kacangan, yang akhirnya membuat ibu hamil kekurangan protein,” paparnya.

Bayi Usia 0-6 bulan

Tantangannya berbeda lagi. Masih banyak ibu yang tidak memberikan kolostrum atau ASI pertama.

Karena berwarna kuning sehingga dianggap kotor, lalu dibuang. Sebagian ibu masih menganggap bahwa ASI adalah minuman dan bukan makanan, sehingga bayi harus diberi makanan lain agar kenyang. Banyak pula ibu yang tidak mengerti arti tangisan bayinya sendiri.

“Tiap kali bayi menangis dianggap kelaparan. Begitu bayi menangis tapi ASI sudah habis, dianggapnya bayi masih lapar sehingga diberi makanan/minuman lain,” ujar Rita.

Bayi Usia 7-11 bulan

Bayi mulai mendapat MPASI (makanan pendamping ASI). Sering kali ibu hanya berpatokan pada gigi bayi, bukan usianya.

“Ketika bayi belum punya gigi, MPASI yang diberikan hanya air saja, dan begitu giginya sudah tumbuh, diberi makanan padat,” tutur Rita.

Bayi Usia 12-24 bulan

Anak kerap mulai menunjukkan gejala pilih-pilih makanan, atau tidak mau makan. Sangat disayangkan, sebagian orang tua menganggap ini hal yang biasa dan akan berlalu dengan sendirinya, sehingga tidak melakukan apapun untuk memperbaikinya. Atau ibu tidak berani memberi makanan di luar kebiasaan sehari-hari. Sebagian ibu masih menganggap bahwa makan sama dengan nasi.

“Alhasil, porsi nasi sangat banyak sehingga anak kenyang, tapi tidak mendapat cukup protein. Padahal protein adalah zat gizi penting untuk pencegahan stunting,” tandasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads