alexametrics

Usia 40 Tahun ke Atas, Waspadai Frozen Shoulder

29 Juli 2020, 07:07:49 WIB

JawaPos.com – Kasus frozen shoulder atau rasa nyeri dan kaku di area bahu termasuk penyakit yang belum dapat dipastikan penyebabnya. Namun, gejala yang dirasakan biasanya dimulai dengan rasa nyeri yang sangat luar biasa di bahu. Selain itu, diikuti limitasi pada gerakan. ”Dipakai angkat tangan terasa sakit, mau angkat barang, pakai baju sulit,” ucap dr Stefani SpKFR.

Bagaimana membedakan nyeri bahu yang termasuk frozen shoulder dan yang bukan? Stefani menuturkan, keterbatasan gerak tangan pada frozen shoulder terjadi pada segala arah. Baik ke atas, depan, maupun samping. Jika pada arah tertentu saja, bisa dicari penyebab lainnya.

Penyakit itu dibagi menjadi tiga tahap. Dokter Pramono Ari Wibowo SpOT menyebutkan, tahap pertama disebut freezing. Pada tahap itu, pasien biasanya merasakan nyeri hebat. Sifatnya progresif, bahkan bisa mengakibatkan terbangun saat malam karena nyeri tersebut. ”Pada beberapa kasus, juga ada yang dipakai diam saja sudah nyeri,” jelas Stefani. Tahap pertama itu biasanya terjadi selama tiga hingga sembilan bulan.

”Tahap kedua disebut frozen shoulder, di sini nyerinya mulai berkurang,” jelas Pramono. Rasa nyeri mulai berkurang pada beberapa jenis gerakan tertentu saja. Hilang timbul dan tak lagi mengganggu tidur secara terus-menerus. Namun, keterbatasan gerak masih dirasakan pasien. Tahap tersebut biasanya terjadi selama 12 bulan. Dengan demikian, total 21 bulan sejak tahap awal.

Tahap terakhir disebut thawing. Pada tahap ini, gerakan bahu mulai membaik. Rasa nyeri juga biasanya menghilang. Namun, tahap tersebut berjalan selama 24 bulan. ”Jadi, total kalau pulih sendiri itu bisa 45 bulan,” tutur dokter spesialis ortopedi di National Hospital tersebut. Meski begitu, proses pemulihan tak terjadi 100 persen. Dari 10 orang, bisa jadi 1−2 orang dengan frozen shoulder tetap tak membaik setelah bertahun-tahun.

Faktor yang memengaruhi munculnya frozen shoulder ternyata terkait beberapa hal. Salah satunya usia. Stefani mengatakan, banyak pasien datang dengan frozen shoulder sudah berusia 40 tahun ke atas. Jenis kelamin juga didominasi perempuan. ”Laki-laki lebih sedikit, tapi biasanya datang dengan keluhan yang lebih berat. Faktor persisnya belum diketahui,” papar Pramono.

Faktor adanya penyakit diabetes melitus juga cukup memengaruhi. ”Mereka yang menderita kencing manis punya kemungkinan dua kali lebih tinggi,” ucap Pramono. Pengobatan yang dilakukan jadi lebih rumit jika pasien memiliki kencing manis. Hal itu dipengaruhi ketidakoptimalan di pembuluh darah.

Pemeriksaan awal pada frozen shoulder biasanya untuk memetakan kategori primer atau sekunder. ”Jadi, kita lakukan rontgen untuk melihat apakah ada kondisi penyebabnya,” imbuhnya.

Pemulihan biasanya diutamakan dengan terapi konservatif dulu atau tidak melalui operasi. ”Dikombinasi, bisa pemberian fisioterapi dengan obat-obatan untuk mengurangi gejala dan peradangan. Kita mesti tahu mereka datang di fase apa,” ungkap Pramono. Stefani menambahkan, terapi kompres pada bahu juga dilakukan untuk membantu pengurangan rasa nyeri.

Tentang Frozen Shoulder

  • Secara umum dibagi dua dari kondisi awalnya, primer dan sekunder.
  • Primer jika tak ada riwayat jatuh, dipijat, atau lainnya.
  • Sekunder jika terjadi karena ada pemicu. Bisa di luar sendi, dalam sendi, atau saraf.
  • Penyebab pasti belum diketahui. Namun, beberapa penelitian mengarah pada peradangan sehingga kapsul pembungkus sendi jadi menebal.

Sumber: dr Pramono Ari Wibowo SpOT

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : dya/c6/nor



Close Ads