Meminang In Vitro Fertilization (IVF) demi Menimang Buah Hati

Bisa Simpan Embrio untuk Kehamilan Berikutnya
28 November 2021, 18:04:41 WIB

Kasus infertilitas alias gangguan kesuburan di Indonesia masih tinggi. Kondisi itu dialami satu di antara delapan pasangan suami istri. Karena itulah, in vitro fertilization (IVF) atau fertilisasi in vitro alias bayi tabung diminati banyak orang.

DOKTER spesialis obstetri dan ginekologi Prof dr Budi Santoso SpOG (K) menyebut bayi tabung sebagai salah satu metode penatalaksanaan bagi pasien-pasien dengan gangguan kesuburan. Pasangan suami istri bisa dikatakan terindikasi infertilitas jika selama satu tahun menikah dalam siklus aktivitas seksual yang normal, sang istri belum hamil.

’’Jika itu terjadi, harus dilakukan eksplorasi untuk mencari tahu penyebabnya. Mengapa belum terjadi kehamilan,” katanya kepada Jawa Pos saat ditemui Kamis (25/11).

Ada sedikitnya tujuh tahap yang harus dilewati dalam proses bayi tabung. Salah satunya adalah pemeriksaan hormon. Termasuk pemeriksaan sel telur dan sperma. Dokter yang akrab disapa Prof Bus itu mengatakan bahwa pemeriksaan sperma tidak kalah penting daripada pemeriksaan sel telur. Agar program bayi tabung berhasil, kondisi sel telur dan sperma perlu dicek.

Pengecekan sperma dilakukan dengan melihat jumlah, gerakan, dan bentuk (morfologi) spermatozoanya. Pengecekan sperma relatif lebih mudah karena tidak dibutuhkan alat khusus untuk mengeluarkannya. Selanjutnya, sperma diteliti di laboratorium.

Ada empat kategori sperma yang tidak memungkinkan terjadinya pembuahan alami. Yakni, oligospermia (jumlah sperma sedikit), asthenozoospermia (gerak sperma yang rendah), azoospermia (tidak ditemukan adanya spermatozoa), dan teratozoospermia (bentuk dan ukuran sperma abnormal). Atau, bisa jadi masalahnya adalah gabungan empat kategori tersebut.

’’Itu dari faktor suami,” ujar Prof Bus.

Sementara itu, pemeriksaan istri justru lebih kompleks. Infertilitas pada perempuan bisa disebabkan faktor saluran telur, ovarium, dan rahim. Bisa juga faktor-faktor di luar organ yang memengaruhi kesuburan.

’’Kebutuhan bayi tabung itu kita runut dari sejak kapan munculnya kendala kehamilan. Jika karena kedua saluran telur buntu atau suami azoospermia, ya harus bayi tabung,” jelas pria yang juga menjabat dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) itu.

Apakah semua pasangan dengan gangguan kesuburan pasti bisa mendapatkan keturunan lewat IVF? Tidak. Prof Bus mengatakan bahwa jika azoospermia terjadi karena testis rusak, program bayi tabung tidak akan bisa membantu. Namun, jika saluran sperma buntu, sperma masih bisa diambil langsung dari testis.

Gangguan kesuburan seperti apa saja yang bisa dirujuk ke program bayi tabung? Prof Bus menyebut kasus azoospermia, pembuntuan saluran telur, PCOS (polycystic ovarian syndrome), dan endometriosis. ’’Indonesia punya 250 juta penduduk. Kemungkinan adanya kasus-kasus (gangguan kesuburan) yang memerlukan bayi tabung cukup besar,” ujarnya.

Dalam program bayi tabung, tim dokter dan pasutri mengharapkan oosit (sel telur) yang banyak. ’’Jika oositnya banyak, embrionya bisa lebih dari satu. Nah, embrio tersebut yang ditanamkan ke rahim hanya satu atau dua,” terangnya.

Lalu, bagaimana dengan sisa embrionya? Bisa disimpan untuk kehamilan berikutnya. ’’Bayi tabung ini seperti kotak pandora. Saat pemrosesan bayi tabung, usia embrionya sama, tapi penanamannya bisa dilakukan pada jarak waktu yang diinginkan,” ujar Prof Bus.

Agar embrio bisa digunakan lagi dalam kehamilan berikutnya, sistem penyimpanan embrionya pun harus baik. Dalam layanan penyimpanan embrio itu ada kontrak dan biayanya jelas. ’’Biaya menyimpan sekitar Rp 2,5 juta per tahun,” katanya. Biaya itu bervariasi, bergantung klinik atau rumah sakit yang melayani.

Selain itu, penyimpanan harus menganut asas etika. ’’Kita tidak boleh menggunakan embrio tersebut untuk penelitian,” tandas Prof Bus.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : ayu/c7/hep

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads