alexametrics

Kasus Prematur Tinggi, Retinopathy of Prematurity Ikut Tinggi

28 Oktober 2019, 19:59:09 WIB

JawaPos.com – Kasus bayi lahir prematur di Indonesia masih terbilang tinggi. Di RSUD dr Soetomo, tingkat kelahiran prematur setiap tahun mencapai 487 bayi. Kondisi bayi prematur rentan mengalami berbagai macam gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit. Salah satunya kelainan mata retinopati prematuritas atau retinopathy of prematurity (ROP).

Keadaan tersebut merupakan pertumbuhan pembuluh darah yang abnormal pada retina. Jika tidak segera ditangani, kondisi itu akan mengakibatkan lapisan retina terlepas. Bahkan bisa mengakibatkan kebutaan.

dr Rozalina Loebis SpM (K), dokter spesialis mata di fasilitas kesehatan milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) itu, mengatakan bahwa bayi yang lahir kurang dari 31 minggu dan berat badan lahir kurang dari 1.250 gram akan mendapatkan skrining ROP. Tujuannya, mencegah terjadinya keparahan.

’’ROP memiliki perjalanan penyakit yang cukup cepat. Bisa parah dalam hitungan hari. Karena itu, semakin cepat diskrining semakin dini penanganannya,’’ kata Roza. Setelah didiagnosis ROP, bayi harus cepat-cepat diobati. Jika lebih dari 72 hari setelah pemeriksaan belum juga diobati, penyakitnya dikhawatirkan semakin akut.

Roza menuturkan, bayi yang tidak lahir di RSUD, tetapi berkonsultasi ke faskes tersebut biasanya sudah mengalami stadium tiga hingga lima. Stadium tiga merupakan keadaan pertumbuhan pembuluh darah meningkat dan sangat berat. ’’Kondisi ini bisa dibilang fifty-fifty, bisa membaik atau meningkat ke stadium berikutnya sehingga harus segera dilakukan tindakan,’’ ucap Roza.

Untuk bayi dengan ROP stadium empat, retina sudah terlepas sebagian karena terjadi penarikan oleh pembuluh darah yang abnormal. Kasus ROP stadium tiga sampai empat harus segera dilakukan tindakan, baik dengan menggunakan laser maupun operasi perbaikan retina.

’’Banyak juga yang datang saat sudah stadium lima. Di mana itu sudah terjadi kebutaan karena retina sudah lepas seluruhnya,’’ ucap Roza.

Minimnya kesadaran orang tua untuk melakukan skrining setelah bayi lahir prematur, menurut dia, mengakibatkan keterlambatan penanganan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ika/c15/ady



Close Ads