alexametrics

Hasil Penelitian, Partikel Mikroplastik Rentan Mengalir ke Dalam Darah

28 Maret 2022, 21:21:21 WIB

JawaPos.com – Selama ini kita sangat akrab dengan botol minuman, kemasan makanan, dan pakaian. Dari ketiga benda itu terdapat partikel mikroplastik. Parahnya lagi partikel mikroplastik bisa masuk ke dalam aliran darah manusia.

Temuan itu baru saja diketahui setelah adanya penelitian ilmuan dari Belanda. Hasil penelitian itu dipublikasikan di jurnal Environment International. Dari jurnal itu disebutkan bahwa polietilena tereftalat (PET) adalah jenis plastik yang paling banyak ditemukan pada aliran darah manusia. Plastik PET paling sering digunakan untuk memproduksi botol minuman, kemasan makanan, dan pakaian. Partikel mikroplastik itu mungkin bersarang di organ-organ tubuh.

COO Common Seas Indonesia Celia Siura mengatakan, penelitian terhadap PET dan mikroplastik itu dipimpin ilmuwan dari Vrije Universiteit, Amsterdam. Penelitian itu berdasar instruksi Common Seas.

Celia Siura mengatakan, 77 persen sampel darah yang diuji pada studi ilmiah itu diketahui mengandung polusi mikroplastik. Studi itu mengamati darah dari 22 orang yang diuji untuk mengetahui kandungan lima jenis plastik-polimetil metakrilat (PMMA), polipropilena (PP), polistirena (PS), polietilena (PE), dan polietilena tereftalat (PET).

Diketahui, 17 dari 22 donor yang diamati mengandung sejumlah besar partikel plastik dalam darah mereka. Para pegiat yakin bahwa temuan baru itu menimbulkan kekhawatiran serius atas dampak plastik terhadap kesehatan.

Para peneliti membuktikan, partikel plastik dapat diangkut ke organ lainnya melalui aliran darah dan dapat menyebabkan respons peradangan. Peneliti menyebut partikel mikroplastik itu bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, air, serta udara yang dihirupnya.

“Temuan tersebut tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat Indonesia,” ujar Celia Siura dalam keterangan tertulisnya yang diterima JawaPos.com, Senin (28/3).

Dia menyebut, polusi plastik di Indonesia sangat tinggi dengan sampah plastik berada di sungai, laut, darat dan daerah pertanian. Kondisi itu berpotensi dikonsumsi hewan ternak dan ikan yang kemudian dimakan manusia.

Selain itu, di Indonesia, plastik sering bersentuhan dengan makanan misalnya, sayuran, buah-buahan, air, minuman ringan, daging, dan ikan. “Cara terbaik untuk mengurangi paparan mikroplastik itu adalah dengan mengurangi jumlah sampah plastik,” sambungnya.

Celia Siura berpendapat bahwa Indonesia memiliki masalah plastik yang luas dan berkembang. Karena, infrastruktur pengelolaan limbah yang buruk, kurangnya alternatif plastik yang layak, dan impor limbah.

Indonesia adalah rumah bagi dua sungai paling tercemar di dunia. Lebih dari 80 persen kota di Indonesia kehabisan ruang tempat pembuangan akhir (TPA) dalam tiga tahun ke depan.

“Sampah plastik mengambil alih negara kita. Melalui karya kami, kami melihat secara langsung kehancuran lingkungan, sosial, dan ekonomi yang disebabkan oleh aliran plastik ke sungai Brantas. Sungguh mengejutkan mengetahui hari ini bahwa plastik juga ada dalam darah kita, mengalir melalui tubuh kita,” tandas Celia Siura.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads